Selasa, 14 Februari 2012

Belajar PR


Menurut Soemirat dan Ardianto (2004) Siaran Pers adalah informasi dalam bentuk berita yang dibuat oleh Public Relations (PR) suatu organisasi/ perusahaan yang disampaikan kepada pengelola pers/ redaksi media massa (tv, radio, media cetak, media online) untuk dipublikasikan dalam media massa tersebut.

Meskipun semua press release yang dibuat PR/Siaran Pers memiliki format yang sama, sebenarnya memiliki perbedaan penekanan pada informasinya yaitu:
  1. Basic Press Release mencakup berbagai informasi yang terdapat di dalam suatu organisasi/ perusahaan yang memiliki berbagai nilai berita untuk media lokal, regional atau pun nasional;
  2. Product Release mencakup transaksi tentang target suatu produk khusus atau produk reguler lainnya untuk suatu publikasi perdagangan di dalam suatu industri;
  3. Financial Release digunakan terutama dalam membina hubungan dengan pemegang saham.
Penulisan press release layak muat apabila cara menulisnya seperti halnya wartawan menulis berita langsung (straight news) dengan gaya piramida terbalik (inverted pyramid). Dimulai dengan membuat lead/ teras berita/ kepala berita sebagai paragraf pertama yang mengandung unsur 5W + 1H (What: apa yang terjadi? Where: dimana terjadinya? When: kapan peristiwa tersebut terjad? Who: siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut? Why: mengapa peristiwa tersebut terjadi? How: bagaimana berlangsungnya peristiwa tersebut?).

Penulisan dengan gaya piramida terbalik ini digunakan dengan alasan: Pertama, pembaca dikategorikan sebagai orang sibuk dan mempunyai waktu yang singkat untuk mendapatkan berita-berita yang faktual. Kedua, redaksi media massa harus memotong Press Release tersebut tanpa mengurangi isi pokoknya. Ketiga, redaksi tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca keseluruhan Press Release. Sebelum redaksi memutuskan dibuang atau dipakai release tersebut, mereka harus tahu dengan cepat apa keseluruhan isi release itu (Cole dalam Soemirat dan Ardianto, 2004).

Setelah menulis lead sebagai paragraf pertama, kembangkan lead itu dalam paragraf kedua untuk menjelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan. Kemudian masuk kepada tubuh berita. Penulisan dengan gaya piramida terbalik ini berarti menulis berita dari mulai yang sangat penting (lead) sampai kepada semakin tidak penting. Sedangkan judul diambil dari lead (berita yang sangat penting tadi).

Mappatoto (1993) menggambarkan struktur piramida terbalik dalam pembuatan siaran pers sebagai berikut:












Di sini dijelaskan bahwa judul berfungsi sebagai etalase berita yang harus ditulis dengan bahasa yang jernih sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. Baris tanggal adalah ruang untuk menunjukkan tempat berita dibuat dan tanggal pembuatan berita. Sebaris dengan “creditline” yang menunjukkan jati diri media. Alinea pertama dari berita disebut pusat perhatian maksimal atau teras, atau lead, atau intro dari berita yang dapat disarikan untuk dijadikan judul berita. Isi teras berisi jawaban semua unsur 5 W + 1 H (disebut teras formal) atau jawaban dari dua atau tiga unsur saja (teras informal). Sesudah teras bagian berikutnya disebut Tubuh Berita, tempat menguraikan lebih lanjut unsur-unsur tersebut. Latar berita merupakan keteranga yang akan memperjelas unsur “siapa, apa, dimana, mengapa, dan bagaimana”. Sedangkan bagian rangkuman sebenarnya merupakan latar yang berisi “catatan dibuang sayang” dari suatu peristiwa. Bagian ini dapat dipotong kalau ruangan tidak mengijinkan.

Austin (1996) menyarankan agar PR membaca surat kabar––lokal dan nasional––dan mempelajari gaya bahasa yang mereka gunakan. Tulislah siaran pers dengan gaya surat kabar yang akan dikirimi tulisan tersebut. Siaran pers yang ditulis harus meniru gaya artikel dalam surat kabar itu. Sebagai contoh bila mereka selalu mencetak nama lengkap gunakan nama lengkap dan bukannya singkatan.

Untuk menarik perhatian pembaca, Austin menjelaskan beberapa aturan dasar yang biasa digunakan wartawan untuk menarik perhatian pembaca. Aturan tersebut juga berlaku ketika menulis siaran pers, yaitu:
  1. Memilih judul yang positif (aktif) dan bukannya pasif.
  2. Paragraf pertama (lead) harus tajam dan ringkas; antara 12 sampai 20 kata merupakan ukuran yang ideal.
  3. Usahakan supaya kalimat dan paragraf pendek-pendek.
  4. Hindari kata yang berlebihan seperti “ini” dan “itu”, serta kata keterangan dan kata sifat yang tidak perlu. Anda tidak perlu mengatakan bahwa sesuatu “hebat” atau “fantastis”. Kalau itu sehebat yang anda nyatakan, maka akan jelas dengan sendirinya dari teks yang anda tulis.
  5. Hindari kata-kata panjang karena kolom surat kabar sempit.
  6. Hindari istilah khusus dan penggunaan singkatan.
  7. Jawab enam pertanyaan ––siapa, mengapa, apa, bilamana, di mana dan bagaimana. Kalau anda tidak menjawab keenam pertanyaan ini maka siaran pers anda tidak berisi semua informasi yang diperlukan wartawan.
  8. Jangan menulis awal, bagian tengah dan akhir. Masukkan semua butir yang penting pada awal siaran pers. Kalau artikelnya terlalu panjang mereka akan memotongnya dari bawah dan jika Anda meletakkan butir-butir yang paling penting pada akhir berita, maka bagian itu tidak akan termuat.
  9. Tulislah berita dan bukan pandangan (harus berdasarkan fakta).
  10. Selalu periksa kembali ejaan nama orang.
  11. Ketiklah siaran pers hanya pada satu sisi kertas saja dengan spasi rangkap. Berikan margin yang cukup pada semua sisi halaman.
  12. Selalu beri tanggal pada siaran pers.
  13. Selalu cantumkan nama kontak dan nomor telepon di siang hari pada bagian bawah siaran.
  14. Buatlah siaran pers sesingkat mungkin.
Berkaitan dengan press release Jefkins (2003) mengungkapkan hal-hal terpenting perihal pers yang harus diketahui oleh seorang praktisi PR:
  1. Kebijakan editorial. Hal ini mengungkapkan pandangan dasar dari suatu media yang dengan sendirinya akan melandasi pemilihan subjek-subjek yang akan dicetak atau yang akan diterbitkannya. Selain itu aturan keredaksian dan aturan kewartawanan juga perlu diketahui PR dalam menulis dan mengirimkan press release.
  2. Frekuensi penerbitan. Setiap terbitan punya frekuensi penerbitan yang berbeda-beda, bisa harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Hal itu perlu diketahui oleh para praktisi PR, sehingga dapat menyesuaikan diri dalam pembuatan press release.
  3. Tanggal/tenggat terbit. Kapan tanggal dan saat terakhir sebuah naskah harus diserahkan ke redaksi untuk penerbitan yang akan datang? Hal ini ditentukan oleh frekuensi dan proses percetakannya. Hal ini penting diketahui praktisi humas karena kerap kali siaran pers yang dikirimkan tidak bisa termuat karena terganjal oleh tenggat terbit.
  4. Proses percetakan. Hal ini wajib diketahui oleh praktisi humas sehingga pemuatan press release bisa sesuai dengan yang hiharapkan.
  5. Daerah sirkulasi. Apakah jangkauan sirkulasi dari suatu media itu berskala lokal, pedesaan, perkotaan, nasional atau internasional. Hal ini dinilai sangat penting agar pesan yang disampaikan efektif dan efisien.
  6. Jangkauan pembaca. Berapa dan siapa saja yang membaca jurnal atau media yang bersangkutan? Seorang praktisi PR juga dituntut untuk mengetahui kelompok usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, minat khusus, kebangsaan, etnik, agama, hingga ke orientasi politik dari suatu khalayak pembaca media.
  7. Metode distribusi. Praktisi PR juga perlu mengetahui metode-metode distribusi suatu media, apakah eceran atau langganan. Kemudian ihwal tiras juga patut diketahui dalam upaya efektivitas dan efisiensi komunikasi yang dijalankan.
Abdullah (2000) mengatakan bahwa yang dinomorsatukan oleh wartawan atau redaktur dalam menilai sebuah peristiwa yang akan menjadi berita adalah nilai jurnalistiknya. Hal serupa diberlakukan pula kepada rilis yang masuk yang dikirimkan oleh lembaga humas, atau materi sebuah jumpa pers, juga kegiatan khusus (special event) hingga hasil wawancara dengan narasumber. Meskipun nilai jurnalistik masing-masing media relatif berbeda, para praktisi media massa di seluruh dunia memiliki patokan unsur-unsur yang memiliki nilai jurnalistik, yaitu: aktualitas, kedekatan (proximity), penting, keluarbiasaan, ketegangan, konflik atau pertentangan, seks, kemajuan, emosi, dan humor. Kemudian ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengiriman press release:
  • Kirimkan secepat mungkin. Artinya, jika kegiatan berlangsung hari itu, kirimkan hari itu juga. Jangan menunda hingga esok harinya, kecuali jika pelaksanaannya adalah malam hari.
  • Jika pengirim siaran pers sudah mengenal nama wartawan sesuai bidangnya, tujukanlah pada wartawan tadi.
  • Pengiriman bisa pula melalui faksimili (atau e-mail).
  • Jika melampirkan foto atau cetakan berwarna atau contoh produk, lebih baik melalui kurir.
  • Konfirmasikan kembali melalui telepon, apakah siaran pers tadi sudah diterima atau belum.
Terkadang siaran pers ini melengkapi acara jumpa pers atau konferensi pers sehingga para kuli tinta tidak salah mengutip pernyataan atau data yang ada. Karena itulah menurut Abdullah (2000) ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan konferensi pers atau jumpa pers:
  • Jangan mengundang wartawan secara mendadak karena biasanya wartawan sudah memiliki jadwal kerja yang padat.
  • Hargailah waktu wartawan, jangan menunda waktu yang telah dijadwalkan.
  • Jangan mengundurkan waktu hanya karena ada wartawan yang belum datang.
  • Wartawan paling menyukai acara jumpa pers pagi hari.
  • Hindari jumpa pers pada hari libur.
  • Hindari jumpa pers yang jaraknya sangat jauh.
  • Jika ingin suasana santai, jumpa pers bisa pula di rumah makan atau tempat rileks lainnya.
  • Hadirkanlah orang yang mempunyai kredibilitas sehingga menambah bobot acara jumpa pers.
  • Jangan “mengusir” wartawan yang datang tidak diundang sejauh ia betul-betul membutuhkan informasi untuk berita.
  • Sediakan bahan-bahan atau data tertulis sebagai pelengkap tulisan/ berita yang akan ditulis wartawan. Apakah itu proposal, brosur, rilis dan lain-lain.
  • Masukkan bahan-bahan tadi dalam map atau amplop.
  • Jika akan memberi cinderamata atau uang transportasi, masukkanlah ke dalam amplop besar atau map tadi.
  • Hindari jumpa pers satu arah. Berilah kesempatan wartawan untuk bertanya.
  • Jangan heran apabila dalam kesempatan itu wartawan akan bertanya pula tentang materi lain di luar materi yang dijumpaperskan.
  • Hindari jawaban “No Comment” dalam diskusi, sebab jawaban ini mengesankan pembenaran dari pernyataan wartawan.
Khusus dalam Press Briefing karena dilakukan secara reguler dalam kegiatan besar, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:
  • Susunlah jadwal yang pasti, siapa yang tampil sebagai narasumber dan siapkan data yang akurat.
  • Konfirmasikan dahulu, apakah narasumber yang akan ditambilkan itu bersedia muncul dalam pertemuan dengan wartawan.
  • Siapkan bahan-bahan tertulis dalam press room yang disediakan.
  • Buatlah jurnal harian yang akurat dan lengkap.
  • Sediakan press room yang memadai yang dilengkapi dengan berbagai sarana komunikasi dan pengetikan
Ada format yang cukup standar untuk membuat siaran pers. Ini akan membantu kredibilitas Anda dan kemungkinan diterbitkan jika Anda mempresentasikan materi Anda dengan cara ini. Setiap rilis pers harus mencakup sebagai berikut:


UNTUK DITERBITKAN SEGERA:
Kata-kata ini akan muncul di bagian atas kiri halaman, dalam huruf besar. Jika Anda tidak ingin cerita yang akan diumumkan belum, menulis "HOLD SAMPAI ...." sebagai gantinya.

HEADLINE:
Sama seperti judul di koran yang. Pastikan ini menggambarkan isi dari cerita.

Kota, Negara / Negara - Bulan Tanggal, Tahun
Rincian ini mendahului cerita dan orientasi pembaca.

BODY BERITA:
Di sinilah kisah yang sebenarnya terjadi. Harus ada lebih dari satu paragraf, setiap paragraf tidak lebih dari beberapa kalimat. jika ada lebih dari satu halaman, menulis "-lebih-" di bagian bawah halaman.

INFO ORGANISASI/PERUSAHAAN;
Masukkan semua informasi latar belakang tentang perusahaan atau organisasi yang menampilkan dalam siaran pers.

INFORMASI KONTAK:
Sertakan contact person, nama perusahaan, telepon / fax, email, fisik / alamat pos.

SELESAI atau # # #
Kalimat di sini menunjukkan akhir siaran pers.

(xxx words)
Jika Anda seperti Anda bisa termasuk jumlah kata yang terdapat dalam siaran pers.




Jejaring Social



Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.

Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook,

Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.

Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.

Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat.

Jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama akan suatu hal.

Sosial Media kini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari pengguna Internet di Indonesia. Social medialah situs yang paling sering mereka kunjungi. Waktu terbanyak mereka di online dihabiskan untuk bercengkerama di media sosial, seperti Facebook, Blog, Kaskus, Twitter.

Hasil riset comScore menunjukkan, 86,7% pengguna Internet berusia 13 tahun ke atas di Indonesia menggunakan Facebook. Di media sosial terbesar dunia itu sendiri tercatat 40,5 juta akun dibuat orang Indonesia, terbesar kedua di dunia. Dan separuh dari mereka login setiap hari.

Twitter juga menjadi tempat idola. Meski angkanya baru sekitar sembilan jutaan, namun Indonesia menyumbang 15% trafik Twitter global dan sering membuat trending topic.

Berikut adalah contoh social media yang juga populer selain facebook yaitu;

1. Foursquare

Foursquare adalah sebuah situs web dan aplikasi dari telepon selular yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan teman mereka dan secara langsung check-in lokasi terbaru mereka. Foursquare hanya bisa digunakan pada Iphone, Android , Blackberry, Palm Pre dan telepon selular lain yang menawarkan aplikasi mobile web. Check-in di dalam foursquare adalah ketika pengguna memberitahu foursquare dimanakah dia berada . Check-in bisa dilakukan dimana saja, di restoran, museum, taman kota, atau di universitas. Pada saat anda melakukan check-in maka anda akan diberikan sebuah poin. Poin juga bisa didapatkan dengan menambah lokasi baru yang belum ada di dalam situs web Foursquare. Pengguna foursquare juga dapat check-in lokasi terbaru mereka sekaligus juga memberikan komentar tentang lokasi tersebut . Foursquare bekerja sama dengan Facebook dan juga Twitter, jadi jika pengguna check-in maka akan otomatis terdapat pada account Facebook dan Twitter. Pada Iphone versi 1.3, pengguna Foursquare dapat mengetahui check-in dari teman mereka yang dikenal dengan nama “Ping”. Pengguna juga bisa mendapatkan sejumlah badges yang bisa diartikan sebagai pangkat dengan check-in di tempat-tempat yang direkomendasikan dari situs atau mengunjungi sebuah lokasi dengan intensitas yang tinggi. Mayor adalah sebuah pangkat yang akan diberikan oleh situs web ini a

pabila anda telah check-in di satu lokasi dengan intensitas yang tinggi. Dan jika pengguna lain telah mengalahkan intensitas anda dalam check-in di lokasi tersebut maka dialah yang akan dinobatkan sebagai seorang Mayor yang baru. Banyak penawaran yang didapat bila anda adalah seorang mayor dari sebuah lokasi. Di dalam situs ini, pengguna juga bisa membuat sebuah list dari hal-hal yang akan dikerjakan (to do list) untuk kepentingan pribadi dan juga memberikan tips tentang lokasi tersebut sehingga pengguna lain bisa membacanya. Tips ini bisa berupa saran tentang apa yang sebaiknya dilakukan, dilihat, atau dimakan pada lokasi tersebut. Off the Grid check-in adalah sebuah check-in yang dilakukan pengguna secara rahasia karena pengguna tersebut tidak mau lokasinya diketahui oleh pengguna lain.
2. Tumblr

Tumblr adalah sebuah layanan tumblelog gratis yang mengizinkan penggunanya untuk memposting tidak hanya tulisan, tetapi juga mengizinkan penggunanya untuk memposting foto, quote, video, chat, audio, dan link. Fitur tumblr yang memperbolehkan para pengguna untuk memposting foto biasa
digunakan oleh para pengguna tumblr untuk membuat sebuah photoblog. Terdapat fitur khusus yang ada pada situs tumblr yaitu, pengguna tumblr dapat membuat blog yang bersifat pribadi. Postingan tersebut hanya bisa dilihat oleh pengguna itu sendiri atau pengguna lain yang ditunjuk atau dipilih oleh pengguna yang memiliki account tersebut untuk dapat melihat blog pribadi ini. Pengguna dapat melihat kiriman tulisan, foto, quote, video, chat, audio, dan link melalui situs tumblr.com

3. Flickr

Flickr dikembangkan oleh Ludicorp, sebuah perusahaan yang berbasiskan di Vancouver, Kanada yang dibangun pada tahun 2002. Ludicorp meluncurkan Flickr pada Februari 2004. Layanan ini dikembangkan pada awalnya untuk membuat Game
Neverending, sebuah MMORPG. Flickr dianggap sebagai sebuah proyek yang lebih masuk akal dan Game Neverending ditunda pembuatannya.Bentuk awal dari Flickr difokuskan sebagai chat room dengan banyak pengguna dengan nama FlickrLive dengan kemampuan berbagi foto secara langsung (real time). Yang lebih banyak terjadi adalah membagi foto atau gambar yang ditemukan di web daripada foto yang dibuat oleh para pengguna sendiri. Eveolusi berikutnya lebih ditekankan untuk uploading dan chat room menghilang dari peta situsnya.Pada tahun 2005, Yahoo! Inc. mengambil alih Ludicorp dan Flickr. Pada 28 Juni 2005, semua daftar isi dari server Kanada dipindahkan ke server yang berada di Amerika Serikat, yang menyebabkan semua data yang ada berada di bawah hukum federal Amerika Serikat.Pada 16 Mei 2006, Flickr memperbaharui layanannya dari Beta ke “Gamma” dengan perubahan pada desain dan struktur. Berdasarkan FAQ pada situsnya, maksud dari “gamma”, yang jarang digunakan dalam tahap perkembangan perangkat lunak, adalah bahwa layanan ini selalu dicoba oleh para penggunanya dan dalam kondisi pengembangan secara berkelanjutan. Secara keseluruhan, layanan ini berada dalam tahap stabil.


4. Twitter

Twitter adalah Miniatur Blog (Mikro Blogging), dan Mikro Blogging adalah sebuah update singkat tentang sesuatu (entah itu sebuah kejadian, yang sedang dijalani atau berita update) yang disajikan dalam karakter singkat. Kalau anda pengguna Facebook, mungkin tak asing lagi dengan yang namanya Status Update, nah kegiatan utama di Twitter adalah tak jauh berbeda dengan status update tersebut. Dengan twitter anda bisa mengupdate status anda, sehingga para pengikut (follower) anda bisa mengetahui apa, dimana atau sedang apa anda saat menulis status tersebut.

Mikro Blogging telah menjadi alternatif bagi orang yang ingin sebuah blog tapi tidak ingin nge-blog. Sebuah blog pribadi akan berisi berbagai informasi yang penting yang memang layak untuk disajikan ke khalayak umum, namun kenyataannya tidak semua orang suka menulis yang panjang dan lebar atau menerangkan secara detil tentang sesuatu. Suatu waktu anda hanya ingin mengatakan pada teman-teman atau kalayak umum “Habis Nonton Film Transformer dan Ternyata Filmnya sangat mengesankan” Cukup seperti itu untuk mengungkapkan kekaguman anda pada film Transformer dan anda memang tidak berniat menulis ringkasan atau sinopsis film tersebut secara panjang dan lebar, seperti halnya yang banyak di bahas di Blog-blog.

5. Linkedin

Linkedin saat ini bisnis yang paling populer dan situs jaringan profesional dan secara popularitas, Linkedin adalah jejaring sosial terbesar ketiga di dunia setelah Facebook dan Twitter, tetapi LinkedIn adalah jejaring yang hanya khusus diperuntukkan bagi para profesional, berbeda dengan sosial media lain yang lebih dikhususkan pada hubungan pribadi. Aktivitas yang dilakukan di LinkedIn adalah demi kepentingan pengembangan karir seseorang. Profil Linkedin memiliki fitur untuk daftar riwayat pekerjaan kita dan rekomendasi dari atasan, rekan kerja, klien, dan kontak profesional lainnya. Profil digunakan oleh pengusaha dan klien sehingga mereka dapat dengan mudah menemukan sumber daya yang tersedia terbaik untuk mengisi persyaratan kerja dan konsultan.

Diagram dibawah ini menjelaskan sedikit mengenai mapping dari Social media platform itu sendiri.




Minggu, 29 Januari 2012

Potensi bisnis Internet 2012 di Indonesia




Sebagai negara berpopulasi padat dengan penetrasi Internet yang terus meningkat, Indonesia merupakan salah satu negara yang berharap mampu memiliki ‘Silicon Valley’ sendiri dengan berbagai startup, khususnya berbasis teknologi, yang akan menjadi perusahaan skala besar

bahkan lebih jauh lagi, bagaimana kira-kira wajah internet Indonesia satu tahun mendatang?

Pertanyaannya adalah apakah di tahun naga ini prospek bisnis internet di Indonesia tetap menjadi bisnis menjanjikan nah jika berbicara bisnis internet, pastinya tidak pernah akan ada habisnya. Pengalaman-pengalaman dari para pebisnis, pasti akan menggiurkan k

ita juga untuk mencobanya namun bagi para pemula, kadang rasa penasaran itu sirna seketika apabila sudah sampai pada tahap mencari ide bisnis yang perlu kita lakukan serta bisnis model apa yang ideal didalam kita bisa memonetisasi bisnis tersebut.

Melihat prospek bisnis internet Indonesia di tahun 2012, saya awali dari hasil menyimak laporan bertajuk The Connected Archipelago yang dirilis Deloitte, sebuah firma akuntan internasional yang membahas prospek ekonomi internet Indonesia dan ada beberapa poin penting yang disampaikan dari laporan tersebut.

  1. Tahun 2011 kontribusi internet terhadap ekonomi Indonesia mencapai 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional atau setara dengan Rp 166 triliun. Kontribusi internet terhadap PDB ini lebih besar dibanding ekspor gas alam cair (1,4 persen), ekspor peralatan elektronik (1,5 persen), dan sektor kelistrikan (0,5 persen). Diprediksi, sumbangan internet pada PDB pada tahun 2016 sedikitnya mencapai 2,5 persen atau sekitar Rp 324 triliun.
  2. Penggunaan handphone untuk internet di Indonesia sangat tinggi, khususnya untuk social networking. Jumlah pengguna internet melalui handphone juga mendominasi, sekitar 70 persen dari seluruh pengguna internet Indonesia.
  3. Pada pertengahan tahun 2011, pengguna internet mencapai sekitar 45 juta (18 persen dari jumlah penduduk). Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 9 persen.
  4. Pada 2011, 40 persen pengguna internet indonesia berusia antara 15 sampai 24 tahun, dan lebih dari 70 persen berusia dibawah 35 tahun.

Di tahun 2011 lalu bisnis internet Indonesia diramaikan pemberitaan aksi pembelian saham beberapa situsweb ternama, seperti Koprol, Urbanesia, Kaskus dan kapanlagi. Suntikan modal segar ini tentunya diharapkan bakal kian menguatkan cengkraman situs-situs web tersebut di dunia maya bahkan perusahaan bisnis properti online terbesar di Asia, IPGA Limited, baru-baru ini mengakuisisi PT Web Marketing pemilik dan operator situs properti www.rumah123.com dan www.rumahdanproperti.com--senilai 1 juta dolar Australia atau sekitar Rp 9,2 miliar

Ada pula perhelatan yang diharapkan bakal memacu kreatifitas dunia dotcom di tanah air. Bulan November lalu misalnya, diselenggarakan SparX Up Award. Penghargaan ini ditujukan kepada perusahaan-perusahaan start up. Terpilih sebagai pemenang pertama adalah Kartumuu.com, situs yang memungkin user mengirim kartu kepada orang lain dengan gambar dan kata-kata sederhana.

Untuk pertama kalinya juga, majalah SWA menghadirkan penghargaan bertajuk Social Media Award. Penghargaan ini khusus ditujukan kepada produk-produk dan figur publik yang menjadi sorotan di jejaring sosial.

Para pelaku jasa internet juga terlihat berlomba-lomba memberi layanan baru, mulai dari harga akses internet miring hingga bermunculannya dotcom-dotcom baru yang mencoba menyusup di ceruk pasar yang ada, apakah itu pasar lama atau membentuk ceruk pasar baru.

Fenomena di atas menyiratkan bahwa investor asing kian percaya dengan pangsa pasar internet Indonesia yang notabene sekarang sekitar 45 juta orang dan akan terus bertumbuh seiring dengan makin murahnya akses internet. Di sisi lain, optimisme juga merasuk di kalangan para pelaku usaha internet atau pun pebisnis yang mencoba merambah lahan dunia maya sebagai investasi jangka panjang.

Catatan di bawah ini akan coba menyoroti arah bisnis internet Indonesia di tahun 2012 ini, mari kita simak dari hasil penerawangan yang ada:

1. Media jejaring sosial akan terus bertumbuh

Data menunjukkan pengguna facebook di Indonesia telah mencapai lebih dari 11 juta, Pertumbuhan yang sama juga dialami oleh Twitter. Masing-masing jejaring sosial ini memiliki fanatikus tersendiri, walaupun terjadi irisan besar di antaranya.

Popularitas jejaring sosial ini telah memicu lahirnya jejaring sosial lokal seperti Plurk, Fupei, Digli, Kombes dan lain-lain. Tahun 2010 dan 2011 sebelumnya adalah tahun pembuktian bagi eksistensi jejaring lokal, sejauh mana mereka mampu menarik minat netter Indonesia.

2. Telepon seluler bakal menjad jalur utama media jejaring sosial

Sejak tahun 2009 hingga 2011 ditandai dengan gencarnya operator selular mengeluarkan ponsel bundling yang sudah memiliki aplikasi facebook di dalamnya. Sukses ini juga diikuti oleh para vendor ponsel seperti LG, Samsung, Nokia dan lain-lain dengan harga terjangkau.

Penggunaan ponsel sebagai jalur utama untuk mengakses media sosial ini, selain karena kecepatannya, juga untuk menyiasati fobia di banyak perusahaan terhadap mediaj jejaring sosial. Berdasarkan survei, lebih dari lima puluh persen perusahaan dan lembaga membatasi akses ke facebook dan sejenisnya, mulai dari limitasi waktu hingga pemblokiran total.

3. Situsweb dan Jejaring Sosial akan menjadi kebutuhan primer perusahaan

Bila dahulu banyak perusahaan melihat situsweb sebagai kebutuhan sekunder bahkan hanya tersier, di tahun depan, mereka akan melihat media baru ini sebagai kebutuhan primer. Kenapa? Karena mereka akan sering ditanya oleh klien dan atau pelanggan mereka apakah memiliki situsweb atau tidak. Mau tidak mau mereka akan membuat situsweb perusahaan, terlepas dari apakah situsweb itu hanya ala kadarnya atau sesuatu yang memang terkonsep dengan baik sesuai dengan objektif perusahaan.

4. Surat kabar dan majalah bakal ramai-ramai berbenah

Tahun 2008 Kompas versi online terlahir kembali dan diluncurkan besar-besaran setelah mereka melakukan revamp atau pembenahan secara total. Masih merasa belum puas, tahun 2009 mereka memunculkan kanal-kanal baru seperti otomotif, female dan properti.

Apa yang dilakukan Kompas ini telah diikuti oleh media-media cetak lain seperti Media Indonesia dan Tempo. Tempo misalnya telah mengeluarkan versi epaper begitu juga dengan tabloid Kontan.

Pembenahan website ini tidak semata milik media-media terbitan Jakarta bahkan media daerah seperti Jawa Pos, Pikiran Rakyat dan Waspada juga ikut berbenah, bahkan terakhir salah satu putra almarhum President Soeharto yaitu Tommy Soeharto ikut-ikutan mengembangkan bisnis online ini untuk mendirikan www.pelitaonline.com dan kabarnya telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit adanya.

Tahun ini, para pemain media ini mau tidak mau harus terus berbenah. Kenapa? Karena kue iklan media cetak akan semakin sedikit. Begitu pula dengan jumlah pembaca yang terus tergerus oleh kehadiran internet. Semakin lambat mereka mempersiapkan diri hijrah ke media online, akan semakin besar investasi yang harus ditanamkan ke depannya.

5. Pasar besar bagi situsweb yang membidik ceruk sempit

Seiring dengan pembenahan para pemain media cetak di versi onlinenya, pasar yang tersedia untuk pemain baru tinggal di niche market. Beberapa pemain telah berhasil bermain di ceruk sempit ini seperti sendokgarpu dan weddingku.

Semakin besarnya jumlah pengguna internet Indonesia akan membuat kian beragam pula kebutuhan informasi yang mereka inginkan . Dan semakin bersiliwerannya informasi di dunia maya, semakin besar pula keinginan netter untuk “memiliki” situsweb yang mampu memenuhi kebutuhan spesifik mereka.

Adalah sebuah pilihan yang kurang bijak bila coba-coba berpikir untuk menyaingi detik, kompas, okezone, vivanews atau kapanlagi, misalnya tanpa memiliki dana yang cukup didalam bertarung sebagai penyedia konten di Horizontal portal.

6. Bermunculannya para pemain retail tradisional yang memiliki situs belanja sendiri

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan klien, saya melihat adanya energi besar para pemain retail tradisional untuk merambah ke bisnis online. Tahun ini mereka sudah mempersiapkan diri dan tahun depan kita bakal melihat hasilnya. Beberapa peritel tradisional yang kemungkinan bakal meluncurkan situs belanja online sendiri adalah Disc Tarra, Global Teleshop, iBox, Wenger, Topgolf dan lain-lain.

Mereka-mereka yang tahun ini baru coba-coba bisnis online, khususnya dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, besar kemungkinan beberap di antara mereka akan memiliki website sendiri, khususnya yang telah mengemas produknya dengan baik, bahkan institusi besar seperti Rakuten dari Jepang serta Multiply dari Amerika pun sudah hadir di Indonesia.

Sebuah survei menunjukkan kalau 51 persen pengguna internet Indonesia sudah terbiasa menggunakan internet sebagai media berbelanja. Bila pengguna internet kita sekarang berjumlah 30 juta orang, berarti ada potensi pasar sebesar 15 juta lebih dan akan terus bertambah. Jumlah yang menggiurkan bukan?.

7. Social Commerce Semakin Menguat

Tumbuh pesatnya situs jejaring sosial dengan basis komunitas yang kuat menjadi peluang bisnis besar, baik dari sisi pengiklan maupun pengelola situs. Tahun depan, para pengusaha akan menambah porsi belanja iklan mereka ke media-media sosial ini. Terlebih, para pengelola situs jejaring sosial ini terus berbenah diri untuk meraup iklan. Lihat tampilan terbaru facebook, misalnya, yang sangat mengakomodir kemauan pengiklan yang memberikan ruang iklan lebih besar dibanding sebelumnya.

Tengok pula dealkeren.com yang terlihat semakin banyak dibanjiri promo-promo berbasiskomunitas ala Groupon yang sukses besar di AS. Belanja iklan di media sosial bakalmendongkrak kue iklan online tahun depan. Bila tahun ini diperkirakan belanja kue iklanonline tidak mencapai 1 persen dari total kue iklan nasional, tahun depan bisa jadi akanmenembus angka 2 persen luar biasa bukan......

8. Website Berbasis Aplikasi akan Kian Mendapat Tempat

Pengalaman saya dengan beberapa klien dan calon klien menunjukkan bahwa mulai timbul kesadaran untuk tidak sekadar memiliki website informatif yang berguna bagi pelanggan. Mereka juga mulai berpikir memiliki website yang bisa sekaligus dipakai sebagai marketing tools yang handal. Developer website bakal dituntut untuk memberikan aplikasi-aplikasi sederhana hingga kompleks untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sisi back-end bakal menjadi isu penting.

Sebagai contoh, ketika membuat website e-commerce, mereka menginginkan agar mereka juga bisa mengetahui pola perilaku konsumen, mendapatkan data-datanya secara real time cukup hanya dalam satu dua klik. Pengelolaan lalu lintas data konsumen mutlak dibutuhkan. Era situs katalog atau sekadar brosur company profile akan mulai ditinggalkan.


9. Bersaing melalui Strategi Konten

Tahun ini, tren media cetak yang ingin memiliki versi onlinenya masih akan terus berlanjut. Ada keuntungan tersendiri yang mereka miliki, yaitu captive market. Ini yang membedakannya dengan media berita online yang tidak punya basis pembaca media cetak sama sekali. Tapi itu bukan berarti versi online media cetak otomatis akan lebih banyak pembacanya dari media berita online murni di kategori yang sama. Bukti yang paling sahih misalnya adalah kompas.com yang hingga kini belum juga bisa mengatasi jumlah pengakses detik.com. Pada titik inilah, para pemilik situs bersangkutan membutuhkan strategi konten yang tepat sasaran.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan sebuah tabloid yang ingin membenahi versi online mereka. Melihat versi online yang ada, saya tidak heran bila pengunjungnya tidak seperti diharapkan. Isinya hanyalah copy-paste dari versi cetaknya. Tidak ada yang baru di sana, tampilan pun terkesan seadanya. Padahal ketika saya dalami konten tabloid tersebut, saya melihat ada sebuah pasar besar di dunia maya yang telah menunggu kehadiran mereka. Pasar yang selama ini belum ada yang menggarap sama sekali. Tanpa strategi yang tepat, peluang besar ini mungkin akan diambil oleh pihak lain.

Pada kesempatan lain, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang teman tentang bisnis media berita online tempatnya bekerja yang fokus ke berita-berita hukum dan politik. Berdasarkan survei terakhir, kedua hal ini masuk dalam tiga besar informasi yang diinginkan pembaca. Tapi, mengapa situs berita tersebut kurang berkembang? dan lagi-lagi, ini masalah strategi konten.

Apa saja yang dimaksud dengan strategi konten ini? Satu yang utama adalah bagaimana supaya berita-berita yang ada mudah ditemukan via mesin pencari. Kedua, kualitas konten. Kecepatan berita harus tetap diiringi akurasi dan tata bahasa yang baik dan benar. Ketiga, desain yang menarik dan “ngangenin”—memanjakan mata pembaca sehingga ingin kembali dan kembali lagi. Last but not least, diffrensiasi konten dari kompetitor. Tanpa adanya perbedaan informasi yang signifikan, pembaca akan tetap kembali ke selera asalnya. Di tahun 2011, strategi konten ini akan menjadi pekerjaan besar bagi para pelaku media online bila ingin tetap bisa bersaing di rimba-raya-maya.

Nah kalo kita selidik punya selidik maka kunci utamanya ialah bagaimana kita bisa membuat “Monotize” dari apa yang kita bangun di industri online tersebut karena banyak orang bisa melihat kalau bisnis dotcom merupakan lahan yang menjanjikan seiring dengan terus bertumbuhnya jumlah pengguna internet di Indonesia. (Hingga pertengahan tahun ini saja, diperkirakan jumlahnya telah mencapai 45-50 juta orang.) Yang menjadi masalah utama adalah bagaimana menghasilkan uang dari bisnis dotcom tersebut. Ada yang percaya bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah pengunjung, pengiklan akan datang dengan sendirinya. Namun kenyataan berkata lain, media miliknya tetap sepi iklan, walau telah digedor dengan harga diskon habis-habisan.

Masih kecilnya kue iklan online di Indonesia saat ini sebenarnya bukanlah pekerjaan rumah pemilik media semata diperlukan sinergi antara pemilik media dan pihak-pihak terkait lainnya seperti para blogger, para komunitas online untuk mengedukasi para pengiklan dan memberikan mereka solusi menarik bahkan di Indonesia sendiri saat ini telah ketinggalan dari negara-negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, belanja iklan online telah mencapai dua digit, sementara di Indonesia baru menyentuh angka 1 persen lebih sedikit bayangkan saja belanja iklan dalam beberapa tahun lalu berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia namun.

Dan melihat perkembangan yang ada tersebut serta hasil data dari beberapa analisa mengenai industri online yang ada yang saya peroleh dari sumber-sumber terpercaya maka saya melihat belakangan ini justru belanja iklan bisa bertumbuh di atas 15 persen dimana "Konsumsi domestik tinggi, sehingga pengiklan terus ada, maka di tahun 2012 kemungkinan pendapatan internet bisa mencapai 16 - 17 persen menjadi Rp 135 triliun, dibanding tahun lalu. Total pendapatan internet di Indonesia pada 2011 sebesar Rp116 triliun setara 1,6% dari pendapatan domestik bruto (PDB) tahun ini berdasarkan laporan Deloitte Access Economics yang dimandatkan Google Asia Pasifik memprediksi angka ini tumbuh tiga kali lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh dalam 5 tahun mendatang bahkan hingga 2016 diperkirakan Internet menyumbang 2,5% dari total PDB.

Dan semuanya itu mengacu kepada beberapa aspek antara lain; industri periklanan dilihat dari pertumbuhan ekonomi nasional masih relatif rendah dibandingkan negara lain maka tidak heran bila industri media nasional bisa tumbuh 10 kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan industri lainnya belum lagi "IHSG (indeks harga saham gabungan) tumbuh 56 persen, sedangkan saham perusahaan media rata-rata tumbuh 10 kali lipat,"bayangkan saja di tahun 2011 total belanja iklan Indonesia hampir mencapai 60 Triliun rupiah, luar biasa bukan akan tetapi ini akan berpulang kepada para pemilik media dalam menerapkan strategi konten serta mengadopsi konsep social platform yang ada saat ini karena jangan lupa di tahun 2011 konten dinobatkan sebagai Raja atau istilahnya "Content is the King" maka di tahun 2012 sang Kontent mendapatkan predikat baru yaitu "Content become an Emperor".









Rabu, 30 November 2011

Indonesia dan Vietnam


Apa yang kita lihat tentang Indonesia vs Vietnam?, seperti yang kebanyakan orang ketahui ialah Vietnam itu pernah terlibat perang Vietnam yang berkepanjangan dengan Amerika terbukti dengan banyaknya film-film holywood yang beredar.

Dan apabila kita lihat di film-film yang ditayangkan tersebut, Vietnam itu “semacam” negara tertinggal alias Jadul.

Namun, pepatah mengatakan; Jangan pernah melihat buku hanya dari sisi cover saja tapi lihatlah isi dari buku tersebut dan untuk itulah saya mencoba membuat sedikit tulisan tentang perbandingan antara Vietnam vs ind

onesia dari sisi industri media digital.
Apabila kita lihat dari
sisi perkembangan bisnis startup di Vietnam saat ini cukup mencengangkan jika di bandingkan dengan pasar di Indonesia, bagaimana tidak perusahaan game asal Vietnam yang bernama VNG Vina Game mampu mendapat

kan investasi dari IDG Ventures dan Tencent dan di perkirakan akan menjadi Tech IPO yang pertama di Vietnam.
Nilai dari Valuation VNG sendiri oleh Goldman Sachs mampu menembus angka USD 300 juta dan itu adalah sebuah prestasi yang fantastis mengingat VNG sendiri baru di bangun sekitar tahun 2004. Lalu pada saat kita membandingkan dengan Indonesia yang mana awalnya kita pasti berfikir sudah pasti market Indonesia jauh lebih mendukung, berikut analisanya :















Tidak ada alasan, jika kita melihat statistik di atas tersebut, kita akan berkata “waduh, kok bisa Vietnam dengan pasar yang jauh lebih kecil dari Indonesia bisa memiliki prestasi seperti itu.

Lalu, mengapa Startup Indonesia masih jauh ketinggalan di bandingkan Vietnam?, padahal menurut data WEF 2011 Indonesia mengalami peningkatan paling pesat di Index persaingan dunia di antara 20 negara ekonomi terkuat (G20) dimana posisi Indonesia dalam indeks berada di
peringkat 44 di antara 139 negara. Di antara negara G20 seperti Amerika Serikat, Cina, dan Brasil, Indonesia mengalami lonjakan paling tinggi sejak 2005 bahkan disebutkan Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang berhasil menghindar dari resesi keuangan dunia pada 2008 wah bangganya kita sebagai bangsa Indonesia.

Berikut data peringkat (Index) dari hasil pertemuan World Economic Forum 2011.


















Menurut saya alasan mengapa Vietnam lebih maju di banding Indonesia khususnya dari sisi industri Digital mencakup beberapa hal antara lain; Orang Amerika lebih percaya terhadap orang Vietnam (barangkali adanya kaitan sejarah), kemudian daya juang orang Vietnam memang lebih gigih di bandingkan Indonesia mungkin dikarenakan sejarah peperangan dengan Amerika dulu dan ini yang membuat orang Vietnam mampu membesarkan perusahan-perusahaan mereka.

Jika pada tahun yang sama kita membuka perusahaan semisal perusahaan antivirus, beberapa tahun kedepan bisa saja perusahaan mereka sudah besar dan memiliki revenue yang besar pula.

Sedangkan di perusahaan Indonesia, pertumbuhannya masih segitu-segitu saja dan orang Vietnam juga sangat mencintai produk lokal ini bisa di lihat dari pamakai Facebook yang kecil, di bandingkan situs social networking buatan lokal me.zing.vn dan go.vn yang memiliki 5 juta dan 3 juta users belum lagi pemerintah Vietnam melakukan kontrol penuh terhadap konten-konten luar serta mengontrol di sisi infrastructure telekomunikasi dan informasi.

Ini sangat kontras di bandingkan pemakai Facebook di Indonesia yang mencapai 40 juta lebih users, sedangkan Fupei (social networking karya anak bangsa) hanya memiliki 192.000 users dan berdasarkan fakta tersebutlah saya coba menarik kesimpulan awal terkait informasi di atas, bahwasannya ketika kita mencintai produk lokal lah, sebuah perusahaan lokal akan mampu bertahan dan terus bertumbuh dan otomatis Efeknya negaralah juga yang di untungkan, dari negara berkembang perlahan berubah haluan menjadi negara maju.

Ini sudah terbukti di beberapa negara, yang paling di kenal, Jepang. Raykat Jepang begitu mencintai produk dalam negeri. Jadi, saya tidak perlu mengatakan lagi negara mana yang saat ini memegang ekonomi dunia, bukan ?. Lalu coba kita bahas sedikit lebih dalam lagi dari sesama negara Asean tersebut dimana Orang-orang Vietnam memiliki visi yang cukup jelas, sehingga mereka dapat fokus untuk mewujudkan visi mereka.

Mereka memegang secara teguh nilai-nilai kebudayaan dan di aplikasikan terhadap visi mereka dan menurut saya mungkin hal tersebutlah yang masih kurang dilakukan oleh orang Indonesia, sehingga visi kita hanya berjalan setengah.

Lalu, startup Vietnam (luar negeri) umumnya sering membandingkan produk mereka dengan produk luar negeri, sehingga mereka dapat terus belajar serta menambahkan fasilitas-fasilitas yang ada pada produk luar negri dan di implimentasikan ke produk lokal buatan mereka, tentunya segala fasilitas itu sudah di integrasikan sesuai kebudayaan lokal sehingga para pengguna lokal tidak perlu menggunakan produk luar negri, karena segalanya sudah dapat ditemukan pada produk lokal.

Lalu perihal adanya isu yang berkembang selama ini bahwa banyaknya orang-orang cerdas di Indonesia setelah menimba ilmu di luar negeri tidak ingin kembali ke Indonesia lagi dan ini bukan rahasia lagi, banyak faktor memang terkait isu di atas seperti kurangnya apresiasi dari pemerintah serta sedikitnya gaji yang mereka dapatkan seandainya mereka bekerja di Indonesia.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan orang-orang Vietnam maupun India sehingga kesimpulan akhir, Indonesia merupakan negara yang cukup potensial untuk menjadi negara maju. Namun, sebagai rakyat kita perlu mendukung visi Indonesia. Kita harus kompak, mempunyai visi yang sejalan dengan mengimplementasikan nilai-nilai budaya serta pancasila yang menjadi sumber kekuatan atas nilai-nilai bangsa Indonesia. Selain itu, perlunya dukungan dari pemerintah juga dari rakyat Indonesia secara umumnya untuk lebih mendukung produk-produk lokal, menggunakannya dan bangga terhadapnya.

Sampai hari ini saya percaya bahwa produk Indonesia juga tidak kalah dan dapat bersaing dengan produk luar negri asal mendapatkan dukungan penuh terhadap pemerintahnya.


Kamis, 22 September 2011

An Overview for Indonesia Digital Industry

The Internet Industry has gone through various phases of development. The once was considered a questionable communication tool has become one of the most essential mediums to conduct business. Now, the world knows the word Internet, as it becomes part of a modern lifestyle.

The growth of Internet technology is empowering people as never before. The Internet has contributed to the convergence of computing, telecommunications and visual media and the rapid rise of electronic commerce. New lines of businesses have opened up since the introduction of Internet, such as dot-com companies, ISPs, ASPs, consulting, software, and integrators and outsourcing services.

Based on Accenture Internet Business Framework, the Internet elements capture four categories: access, publish, interact, and transact categories. Publish, interact and transact are the phases in eCommerce that encompass a value chain of players from buyers to sellers.

The Internet usage around the world itself has grown rapidly, eight times in just three years, from 50 million in 1997 to 400 million at the end of year 2000. But, compared to any other countries in the Asia Pacific region, Indonesia has the lowest growth rate of Internet users with only 0.7 to 0.9 percent penetration. Mostly blamed for the low penetration percentage is the lack of infrastructure facilities.

However, Internet kiosks, known as Warnet, and other Internet services sprouted. According to Data Center Indonesia's records from January to October 2000 traffic growth rose nine-fold. Now, the number of ISPs has now reached 147 along with an increase in the number of Warnet. The growth of Warnet erases the exclusive nature of Internet, which everyone, including those who do not have telephone or computer, can enjoy. The development has made the Internet a lifestyle in Indonesia, creating hope as well as challenges within government and business.

The development of Internet, especially after the invention of Mosaic in 1993, led to the development of eCommerce era. Although considered a late entry compared to its neighbors in the Asia-Pacific region, Indonesia's virtual businesses grew quite quickly from the fast growth of dot-com companies and websites being launched.





















To gain a deeper understanding of what the Internet users and business is like in Indonesia, the Indonesian Internet Service Provider Association (APJII) in cooperation with the Indonesia Internet Business Community (i2bc) produce a report on the "Indonesian Cyber Industry & Market". Part of the report is based on the research conducted by Pacific Rekanprima in Indonesia's 10 major cities involving 1,500 respondents who are familiar with the Internet. The report is completed with analysis from Accenture and from World Bank, World Development Indicators.

Indonesian Users/Market Perspective
Harry Susianto, a lecturer and researcher from the Psychology Department of the University of Indonesia in his essay The "Portrait of Internet Users In Indonesia" emphasize the importance of research in identifying differences and categorizing the Internet population (Chapter IV). By understanding the picture of Internet users in Indonesia based on the research conducted, businesses can determine the strategy to increase the number of Internet users and how to popularize online transactions.

Based on the research, one of the best ways to increase the number of Internet users is by providing Internet kiosks. It is still the best alternative to cut the expensive cost to use the Internet. As in the case of building online transactions, businesses should put extra efforts in building trust, such as providing customer with a professional and responsive customer service.
Several key findings as a result of the survey conducted by Pacific Rekanprima (elaborated in Chapter II) can be summarized as follows:

Users Profile
Internet users in Indonesia are fairly divided between three age groups (14-25, 26-35, 36-45 year-olds) and nearly two-thirds are male. The occupations vary with private employees being the majority and a quarter of the respondents are students, which is reflected on the level of education, with the vast majority having bachelor (39.6%) and high school (34.5%) degrees. Graduate (master and doctorate) degrees only make up a total of 5.7%. Majority of the respondents have a PC at home (63.5%) and spends Rp. 1 to 2 million for regular monthly expense (70.4%).

Internet Kiosks (Warnets) and Office - the Most Place of Access Overall, 74% of respondents surveyed use the Internet in working days, and slightly over a quarter during weekends. This is related with the location where respondents access the Internet, with 41% at the office and 42% at Warnet. This may further reflects the time of Internet use, where the vast majorities access the Internet in office or school hours between 08.00-17.00 (a total of 54.3% of respondents). The next favorable time of Internet use is after-hours between 19.00-24.00 (a total of 32.3%).

The majority of respondents use the Internet about 2-3 times a week and nearly half (47%) access it for 1-2 hours per visit. During the time of access, nearly half use the service for a combination of business and personal reasons. Only 9% use it solely for business purpose. The survey also revealed that Internet users are willing to spend Rp. 5,000 to Rp. 20,000 per visit.

Internet Subscription
From the survey it was found that five ISPs -- Indosatnet, CBN, Centrin, Radnet and Indonet -- absorb 49% of the respondents that subscribe to an ISP, and the remaining percentage is evenly divided between the rest operating ISPs. The survey revealed that slightly over 20% of respondents subscribe the Internet at home. Major considerations for choosing an ISP included ease of access/connection speed, reasonable cost, and easy registration process. Almost 20% were persuaded through recommendations from business partner. The 80% of respondents who did not subscribe to the Internet were fairly divided between cost sensitiveness, requirement
to own hardware, and expensive installation. Only 3.1% did not subscribe because they did not know the procedure. Nevertheless, 77% of the current non-subscribing respondents were willing to subscribe, with over than a quarter claimed to subscribe in the next 1 year.

Access Problems
Nearly three-quarters of users have experienced a problem while accessing the Internet. The problems vary from access difficulties, take too long to browse, frequently disconnected and frequent hang or computer being stagnant. The majority found a problem at least once out of four times of access, and around 7-10% found a problem every time they used the Internet. Fortunately, most users would wait if they found difficulty in accessing or when browsing is too long. And interestingly, for these two problems less than 11% would report to the provider.

When they found frequent disconnection, the action that a user would take was evenly divided between waiting, switching to other address, report to provider, try another time and last, turn off the computer - especially when the computer "hangs".

Impact of Using the Internet
Corporate users see the Internet as a convenient mean for communication, sending or retrieving information, which also help to build public awareness of their business.

Sixty-six percent (66%) of respondents claimed that using the Internet had a negative impact. Those users have identified six negative aspects of using the Internet which are: wasting money, wasting time, moral degradation (especially the porn sites), reducing people socialization, infiltration of western culture, and unfiltered information which could endanger children's mental development.

Internet Infrastructure
Telephone and PC Penetration in Indonesia
With a population of 235 million, currently only approximately 2 million people are Internet users in Indonesia (less than 1% of total population). The major blame for such a low Internet penetration is the lack of telecommunication infrastructure, although Indonesia can be considered sufficiently capable. Another reason is the low buying power that people have over telecommunication infrastructure since the investment is considered too expensive. Indonesia's teledensity has reached 2.9% while Malaysia has 20%, Thailand has 7-8% and the Philippines has 2-4%. Computer literacy is also one other reason for low number of Internet users.

Indonesia's PC market sits at 5 (five) PCs per 100 households, where as in the rural areas the availability of 1 PC/village is still an uncertainty.

Linking Up the Network
Internet Service Providers (ISPs) and Internet Kiosks (Warnets)
The growth of Internet users could be a reflection of the development of Internet access Industry. The research found that the Compound Annual Growth Rate (CAGR) of subscribers and users are 75% and 78% respectively. As it has been stated, there are approximately 2 million of active users and over 500,000 of subscribers. From this data, APJII estimates that at least the number will double each year. According to APJII as of March 2001 there are 55 active ISPs providing Internet service out of the 147 providers that have been given licenses.

Approximately 18% of the active providers (10 major ISPs) have nearly 80% of the Internet users market share. The growth of access to the Internet has also been driven by the growth of Internet Kiosks or Warnet. The Warnet Directory at NatNit.Net records more than 1,150 Warnet in its listing, with cities such as Jakarta, Yogya, and Bali as the center of Warnet availability.

The wide availability of Warnet and network access helps bridging digital divide in Indonesia. Currently, Telkomnet is the largest network in terms of coverage.

Another trend that occur in the industry is that now network companies can provide Internet services directly to retail customers. In fact, some ISP owners have started to build Warnet, and vice versa. Network and telephone markets are also vulnerable since some ISP and Warnet are now able to offer Voice over IP (VoIP) services to their customers. Outside players are also busy entering the Internet market.

Lippo's Kabelvision, a cable TV company, launched Kabelnet as a joint service with several ISPs such as LinkNet, Indosatnet, CBN, M-Web, Uninet, and CentrinOnline to provide Internet access through high-speed broadband network. Communications providers, such as PT. Satelindo are also starting to provide Internet access for mobile phones. Even content providers like M-Web has been aggressively buying up local Internet companies and ISPs to penetrate the local market.

Indonesia Internet Exchange (IIX)
The establishment of the Indonesian Internet Exchange (IIX) by APJII in 1997 helped the growth of Internet in Indonesia enabling more ISPs to operate. It was done without government support, using funds from private companies. The IIX helps ISPs to cut cost of their operation since most Indonesian servers are connected together through IIX. Prior to the establishment of IIX, the Internet traffic has to go through the international line even though the physical location of destination server/address is sited inside the country. Moreover, it also enhances the speed of connection for fetching the sites. IIX also stimulates the growth of Indonesian domains such as co.id, or.id, ac.id, net.id, mil.id and others.

Building eMarket - Focusing on eTechnology Framework
In this report, Richardus Eko Indrajit who heads several academic institutions and is an avid technology analyst, presents a topic on "E-Technology Profile in Indonesia: The Challenge for the New Millennium." The topic focuses on a holistic conceptual framework that emphasize on infrastructure, requirements and quality management and the development stage as a starting point of analysis (Chapter IV). When data is obtained, the implementation of appropriate eTechnology as supporting devices of eBusiness will hope to boost the eMarket. In developing that strategy for eTechnology in Indonesia, businesses should consider the principles that eTechnology should be proven cheaper, better and faster, based on Indonesia geographic condition and understanding the country's vision with respect to Information Technology.

E-Commerce Players in Indonesia
Internet Business Transformation
The business drivers that motivate companies to transform themselves to be Internet functioned companies include the purpose to acquire new users, obtain market reach, create new revenue streams, have better customer relationships, have new media types, and improve maintenance. In addition, the fact that in Indonesia the number of Internet users is growing rapidly, enterprises are triggered to partner with each other to meet the needs of prospective Internet customers.

The Internet business that companies decide to venture can be categorized into four phases: access, publish, interact and transact. The latter three eCommerce phases indicate both the relative degree of focus and type of interaction that exists between an eCommerce application, and its clients. Publish phase is focusing on the content, while Interact and Transact phase is focusing on the community and commerce respectively.

As with time, the Internet business players are starting to move towards different phases as if their businesses converge. Publish businesses tend to move towards the Transact phase and on a reverse direction, eCommerce sites are also trying to move to the publish phase.

Big Opportunities in Indonesia
Based on the survey, 88.4% of the correspondents know that they can do transactions on the Internet. This is certainly a big business opportunity. More than 16% have performed online transactions for various reasons such as time-cost efficiency, item availability (not available locally), and ease of access (use of credit card). The security of transaction has become the major issue of the other 11.6% group of users, who are concerned that their credit card details might be misused or feels that there is no guarantee that the goods are delivered. These concerns do not
only apply to individual but also corporate users. Once convinced that the issues are resolved, 83% of the respondents who did not like online transaction are willing to participate in eCommerce activities.

The survey also indicates that Internet advertising has not been very effective. From nearly 60% of users who are aware of Internet advertising, the majority do not feel that their buying decision making are influenced. However, most (95.2%) said there is a positive prospect for advertising through the Internet, although improvements are required.

Similar to that, the respondents are also not so much in favor of Internet banking service. Slightly over 84% of users have not ever done Internet banking with reasons that: (1) their bank does not have the facility; (2) not knowing how to use it; and (3) they do not need it yet. For respondents who have done Internet banking, they say that Internet banking is practical, easy to do, time-cost efficient, and provide more privacy.

Despite the big opportunity, there are factors stunting the growth of electronic commerce. The factors are concerns about security, doubts over vendor reliability and a lack of real value propositions. Secure payment over the Internet is the most sensitive issue that is mentioned by Internet buyers. There are companies such as PT. Indosatcom Adimarga and Indosign that try to provide solutions in the eCommerce secure transaction market.

However, some websites also provide customers to make payment in conventional ways without using the Internet. Gramedia CyberStore, for example, offers payment by using ATM BCA. This payment method has a number of advantages, since ATM BCA is a widely accepted transaction medium, available nation wide, and provide a more secured payment method compared to the Internet.

Growing eCommerce Players
Indonesia has a lot of website offerings. Although not yet comparable to the United States market, it is a good sign of growing Internet Industry. Many sites are also expanding their business to offer more services, not just information or commodities but also experience. By offering community services, they enable personalized information and interaction between members. By going commerce, they are able to generate transactions from their customers. Diffy.com became the first Indonesian player in developing a community concept, which offers e-mail and chat for teenagers. Other competitors later follow this business model.

The fact that publish and interactive companies offer very different content or services, and have very different market; they are going in the same direction. Many sites start from publish, move to Interact, then to Transact. News portal like Astaga.com originally provided news, now offer more interactive and transact services such as Astaga!Tour for easy ticket reservation. Astaga.com even went further by offering credit cards using their logo for their loyal customers. Another example is detik.com, which is now equipped with a dedicated section for auction
called detikLelang.

Unbalanced eCommerce Matrix
The eCommerce matrix is a map of sample-players based on industry categories and functions. The vertically axis places the industry categories into consumer goods (i.e. Lipposhop.com), books and gifts (such as sanur.co.id), computer and electronics (i.e. bhinneka.com), automotive (i.e. mobilku.com), B2B marketplace (i.e.bidnets.com), etc. The horizontal axis, based on functions, characterize the businesses into seller agency, market making, buyer agency or payment enabler.

Seller agency is one-stop-shop that offers products from a number of sellers, such as radioclick.com that sells products (e.g. t-shirts, keychain) from radio stations. Market maker owns a virtual marketplace where buyer meets the sellers, such as C2C auction sites (gadogado.net, Lelang2000) or B2B commerce sites (Bidnets, Dagang2000).

While the market maker and seller agency are quite many, the eCommerce matrix is seen unbalanced because Indonesia still lacks players in the buyer agency function. Buyer agencies are those sites that try to match buyer demand with the best offer from sellers. In Indonesia, this business model is adopted by travel websites (indo.com, Astaga!Tours) and financial portal (danamas.com).

Moving to the next step, buyer agency can offer related products their customers may need. In the case of travel websites for example, the offers range from air tickets, hotel reservation, restaurants, to car rental, to souvenirs. By knowing certain characteristics of their customers - which mostly tourists - the agency can target more specific market with more related products, sometimes bundled as one package.

Moving into Intention Value Network
Since buyer now has more power and more perfect information, there is some
business implications. Buyer agency could aggregate demand both within and across customer segments e.g. in reverse auction. Sellers, on the other hand, will have margin erosion due to increased competition. However, they can reduce their marketing and customer relationship cost since there is a tendency that customer relationship is moving from seller to aggregation or buyer agencies.

At the end of this business transformation, the aggregator will become the most important component of an intention value network (IVN). Using one-to-one marketing to retain customer loyalty, IVN aggregator is looking specifically at a certain community of buyers and a list of common needs of that community. To fulfill those needs, a network of providers are involved, integrated into a single website and database.

Emerging Business Model
Established players got a hint that nimble new competitors, launched and based in the New Economy, can create faster and cheaper value propositions, as well as steals significant market share. This is shown when Astaga!com provides credit cards to its members and opens Astaga!Tour. Established players in financial services and travel industry now have one more competitor. Convergence is clearly lowering barriers to entry in many industries. Catcha.co.id, an extension to the global content provider, started to localize content and adapting to local culture and language to attract local customers. This kind of site cloning, of course, becomes a kind of threat to local players since they now face a global competition.

Internet players are changing their business models out of the traditional ones. Businesses are converging. Either brick & mortar businesses are turning into the click businesses (kompas.com), or from click businesses to click-and-mortar businesses (detik.com). Both are now playing in the traditional newspaper business as well as the Internet, although each started differently.

Electronic shopping will never be able to duplicate the retail physical experience, but electronic shopping can offer considerable benefits for impulse buying. The Internet can offer a lot more stock to browse through, but will not need to deal with the cost of space to stock products.

The best breed would probably be a combination of the two - a click-and-mortar business, where people can conveniently shop in the Internet without missing the human experience. For example Lipposhop.com collaborates with Matahari, a leading offline store, to provide products for its customers. Consumers who are familiar with Matahari products have the option to either visit the store for buy online instead. Both companies will not need to provide additional investment to provide the experience.

Rhenald Kasali (Head of the Marketing Department at the Graduate Business School of the University of Indonesia) elaborates more emerging business models. He focuses on the eBusiness opportunity and threat due to industry change, and birth of the New Economy where intermediaries have lesser role to play. The models, mostly focus on the development of business to business (B2B) practices include Channel Master, Sponsored Consortia, Click & Brick Intermediary, Cybermediary, Portal and Viral Marketing (Chapter IV).

As a conclusion, Internet business must look beyond electronic commerce as simply another advertising and distribution channel for products that already exist. The excitement - and the profit - lies in the changing dynamic of the buyer-seller relationship, as power shifts unequivocally into the hands of the buyer.

The Challenge Now
Internet users in Indonesia are still facing many problems that eventually create challenges in the development of the Internet in Indonesia. Indonesia is still facing low level of Internet penetration and other telecommunication facilities. This can be related to low PC ownership and low level of telephone penetration. Another reason of the low level of Internet penetration is the high competition between ISP to acquire new customers.

Most of the Internet's users in Indonesia have difficulties in accessing the Internet. The biggest problem is difficulty in accessing, and then followed by the lengthy time to access, disconnection problem, and "hang" experience. This is due to limitations of the network infrastructure and costly connection.

The usage of Internet is also affected by the culture in a community. If people believe that using the Internet brings negative impacts, the result will be the low usage of online transaction facilities, such as online shopping and Internet banking. Another reason of the low usage of Internet transactions is the anxiety when carrying out a transaction. Nevertheless, it is predicted that Internet and eCommerce markets provide promise due to the communication necessity.

Establishments and socialization of rule of laws (cyberlaws) related to the information technology industry are the most important factors in the infrastructure of the Internet and eCommerce transactions. Most users do not want to make online transaction because of lack of security guarantee. Without any cyber-law, online transaction and eCommerce will definitely move slowly. The absence of regulation and protection for Internet users may cause people feel reluctant to use Internet, because they believe the Internet can cause possible moral or material loss.

These challenges also relate to an essay written by Ishadi SK, a senior communication expert, entitled "Cyberspace: The Promising Brilliance And Horrifying Anxiety" that focuses on the cyberspace symptoms in Indonesia (Chapter IV). In a practical perspective, cyberspace communication will have significant impact towards gender and age issue, social cognition, and behavior aggressiveness because of the lack of control, abandoned values and unclear limitations of space. A country can therefore either be ready or lack the support to manage the cyberspace
symptoms. This is the moment to impose an important question: How far is the government and other related parties have the political will to encourage the society to be more participating, more self regulating and able to find their own solutions (in contrast with the "top-down paradigm")?

A Vision for Tomorrow
The rapid development of television, radio, wireless technology, and satellite usage for accessing the Internet is a promising gateway for increasing the Internet penetration in Indonesia. ISPs and Warnets also play a big role for growth of users accessing Internet. In addition, the increase of Indonesian annual IT expenditure shows that Indonesia's cyber market is promising.

Some actions should be considered and taken to develop Internet in Indonesia. These actions include the optimization of the existing infrastructure network, the making of Internet