Minggu, 17 Desember 2023

Root of bitternes

Luka Batin dan akar kepahitan



Semua manusia pernah berbuat salah, tidak ada satupun manusia didunia ini yang
tidak pernah melakukan kesalahan. Kesalahan yang disengaja maupun kesalahan yang
mungkin terjadi tanpa diluar kendali kita.

Dan sebagai manusia, kita pasti merasakan kemarahan. Kemarahan dapat tumbuh menjadi kebencian dan akhirnya menjadi kepahitan. Sebaliknya, terkadang akar pahit yang tersimpan memicu kepahitan dalam hidup.

Amarah merupakan emosi wajar yang dimiliki setiap orang. Kemarahan dapat membuat kita lebih paham situasi dan kondisi jiwa. Namun, kemarahan bisa dikendalikan sebelum menjadi rasa kepahitan yang parah. 


Memahami Kepahitan Hati.
Kepahitan dan kebencian berhubungan dengan kemarahan. Ketika kita membiarkan kemarahan terhadap orang lain atau frustrasi terhadap situasi kita bercokol dan menumpuk di hati kita, kita bisa mulai mengembangkan kepahitan dan kebencian. Seringkali kepahitan berakar ketika kita disakiti oleh orang lain atau kita merasa situasi yang kita alami tidak adil atau tidak adil. Kepahitan dimulai saat kita melekat pada kemarahan dan kebencian serta mulai menyimpan dendam.

Definisi Kepahitan Hati
Yang dimaksud dengan kepahitan adalah keadaan emosional berupa perasaan kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi atau adanya persepsi diperlakukan tidak adil. Ketika seseorang membiarkan perasaan ini memburuk, suasana emosi negatif dapat meluas hingga menimbulkan masalah kesehatan fisik.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menderita penyakit ini memiliki tekanan darah dan detak jantung yang lebih tinggi, serta lebih mungkin meninggal karena penyakit jantung dan penyakit lainnya.

Cabang-Cabang Kepahitan
  • Perasaan kesal saat Anda mengira seseorang telah menganiaya atau mempermalukan Anda di depan umum. Itu adalah keinginan untuk membalas orang tersebut dengan cara yang sama.
  • Dendam: Perasaan niat buruk yang menetap dan berkembang akibat penghinaan atau cedera di masa lalu.
  • Kemarahan: Ketidaksenangan yang hebat, yang jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi kemarahan, kemarahan, dan kemarahan.

Tanda tanda Akar Kepahitan tumbuh dan menguasai dalam Hidup Kita cenderung untuk

  • Disaat Kita mendapati diri suka terus-menerus mengatakan sesuatu yang menghina tentang orang lain, perhatikan apa yang terjadi! Apa yang Kita katakan tentang orang itu adalah pertanda bahwa ada benih buruk yang mencoba berakar di hati.
  • Mencari-cari alasan untuk menghindar. Ya! Alih alih menghadapi inti masalahnya, ia lebih suka berputar putar menghindar dengan mengatakan bahwa dirinya tidak ada apa apa.
  • Terus terombang-ambing diantara keinginan dan kebencian. Inginnya sih lepas dari semua rasa sakit hati yang menghimpit-siksa, sehingga ia curhat minta tolong kemana-mana, namun pada saat yang sama ia tetap mabok dengan kebencian yang meraja rela.

Akar kepahitan adalah hal yang sangat mengerikan dalam hidup setiap orang. Akar itu bisa bertumbuh sehingga menghambat pertumbuhan kita dan itu benar-benar buruk!

Kepahitan bisa berkembang menuju kemarahan yang sangat ekstrim, kita akan bicara buruk mengenai sebuah objek yang kita benci dengan harapan bisa membohongi orang lain untuk setuju dengan kita dan membenarkan perasaan kita.       

Jika itu tidak disingkirkan dan dihancurkan maka kepahitan bisa menghancurkan orang itu sendiri, sedangkan orang yang ia benci mungkin tidak begitu banyak terpengaruh. Akar pahit timbul dimulai dari ketidak-waspadaan kita menjaga hati kita ketika kekecewaan datang menghampiri kita, kemudian kita menyimpannya dalam hati dan tanpa kita sadari ternyata semakin lama semakin bertumbuh hingga menjadi luka batin dan jika tidak segera “diobati” selanjutnya akan menimbulkan “akar pahit” yang menguasi hati kita. Jika tidak segera dicabut “akar pahit” maka menimbulkan “kanker” yang meracuni hati dan akan menghalangi serta menghambat berkat-berkat yang Tuhan telah sediakan baginya.


Beberapa situasi dan kondisi yang bisa menjadi penyebab Kepahitan dalam Hidup Kita sehari-hari

  • Ketika kita bertanya-tanya: “Ya Tuhan, tidakkah Engkau lihat betapa aku berjuang keras untuk membesarkan anak-anak ini sementara dia menjalani kehidupan mewah? Bagaimana Anda bisa membiarkan dia lolos begitu saja? Akulah yang tadinya setia, dan sekarang akulah yang sengsara sementara dia berbuat demikian! Apakah kamu tidak peduli padaku? Mengapa kamu tidak menghukumnya?”
  • Pengusaha yang jujur ​​melihat pengusaha yang curang menjadi makmur sementara dia terpuruk. “Ya Tuhan, bagaimana Engkau bisa berdiam diri dan membiarkan ini terjadi? Saya seorang pengusaha yang jujur, dan bisnis saya gagal! Bagaimana Anda bisa membiarkan dia melakukan pencurian seperti itu? Aku punya istri dan anak yang harus diberi makan, Tuhan; kenapa kamu melakukan ini padaku?”
  • Pasangan yang tidak memiliki anak merasa sedih ketika mereka melihat keluarga dengan beberapa anak dan mereka tampaknya tidak dapat memiliki satu pun. “Tuhan, mengapa Engkau tidak membiarkan kami mempunyai satu anak saja padahal orang lain mempunyai begitu banyak anak! Tidaklah adil jika kita tidak dapat memiliki satu anak pun untuk disayangi sementara begitu banyak anak yang diaborsi dan ditelantarkan! Ya Tuhan, kenapa Engkau melakukan ini pada kami?”

Hal-hal seperti Ini akan menjadi pola melingkar. Semakin kita memikirkan apa yang telah dilakukan, ketidakadilan yang kita alami dan derita, atau kerugian yang kita hadapi, semakin dalam pula akar kepahitan yang ada. Kita sudah tahu bahwa membawa beban kepahitan itu melelahkan.

Kepahitan mengeraskan hati kita di dalam dan wajah kita di luar. Penyakit ini juga menajiskan orang-orang di sekitar Anda karena penyakit ini menular.

Kepahitan biasanya mulai mengintip dari lubuk jiwa kita dalam bentuk pikiran negatif terhadap orang lain atau sikap masam, tajam, tidak percaya, sinis terhadap seseorang yang telah menyinggung perasaan kita. Jika akarnya tidak segera dicabut dan dicabut, kepahitan itu pada akhirnya akan menjadi pohon besar yang menghasilkan.



Cara mengatasinya

Inti dari masalah ini adalah bahwa pengampunan dari orang lain bisa menjadi
nyata dalam hidup kita hanya bila kita mau mengampuni diri kita sendiri. 

Melawan kepahitan sering kali berarti kita harus melepaskannya. Mungkin, kita harus memaafkan orang lain atas kesalahan yang dilakukan terhadap kita, atau berhenti mengasihani diri sendiri atau situasi kita. 

Kita mungkin harus melepaskan dendam atau kesalahan yang selama ini kita pegang erat-erat.

Bila memikul beban rasa bersalah karena belum mengampuni diri sendiri, mungkin inilah saatnya untuk menerima pengampunan dan mulai hidup baru. 

Dengan kata lain, menerima pengampunan sama dengan memulihkan kembali, memampukan kita hidup sebagaimana harusnya kita hidup’’. 

Pada akhirnya, mengampuni diri sendiri berujung pada iman. Iman dalam kekuatan pengampunan. 





Mata pelajaran Budi Pekerti Seorang anak 弟子规



Di Zi Gui

Di sekolah anak saya sangat kental pembelajaran akan arti budi pekerti sejak anak saya masih duduk dibangku SMP yang mana di adopsi dari kurikulum bangsa Tiongkok atau Chinnese yaitu dalam bahasa mandarinnya disebut Di Zi Gui / ”Budi pekerti seorang anak” ini sangat populer dikalangan pendidikan benua Asia, banyak sekolah-sekolah di beberapa negara Asia, memperkenalkan Di Zi Gui ini kepada anak didiknya, sebagai pendidikan moral dan budi pekerti.

Terlepas pembelajaran budi pekerti ini diadopsi bukan dari Indonesia bagi saya pribadi sih tidak masalah karena tujuannya baik dari kecil anak-anak diberikan paparan budi pekerti ini apalagi kebetulan pemilik sekolah dimana anak saya belajar adalah keturunan Tiongkok tapi sangat menjunjung tinggi Pancasila dan sangat mencintai bangsa Indonesia.

Penasaran saya coba googling mengenai arti dari pembelajaran yang menganut ajaran Di Zi Gui ini supaya bisa lebih memahami akan arti buat anak saya di masa depan dan hasiknya cukup membuat saya kagum, berikut ulasannya.

Bila saya pahami sejarah dari Di Zi Gui ini berawal dari buku berjudul Xün Meng Wen (Naskah Pencerah Batin) karya Li Yüxiu dari Dinasti Qing. Buku tersebut mengutip makna ayat dari buku berjudul Lun Yü bab keenam (Tentang Pelajaran). Lun Yü adalah buku khusus yang membahasa inti ajaran Kong Hu Cu. Pada masa itu, Di Zi Gui adalah pendidikan yang diajarkan kepada anak-anak serta menjadi salah satu bahan dari pendidikan keluarga.

Dalam pembelajaran Di Zi Gui ini menerangkan tentang budi pekerti seorang anak, dimana buku Dizigui disusun dengan format tiga aksara per kalimat; tiap-tiap sajak terdiri atas dua kalimat. Seorang cendekiawan bernama Jia Chunren dari Dinasti Qing menyusun ulang Xün Meng Wen ke dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti, yang kemudian diberi judul Dizigui.

Ajaran moral dan standar dalam Di Zi Gui tidak didasarkan pada doktrin agama ataupun etnis tertentu sehingga dapat dipelajari oleh siapapun secara bebas. Kami berpikir bahwa Di Zi Gui juga baik untuk diajarkan kepada remaja, semua orang tidak tergantung usia, dan tentu saja tanpa dibatasi etnis atau kepercayaan."

Pada zaman Tiongkok kuno, buku ini adalah sebuah buku pegangan yang harus diajarkan oleh semua orang tua dan guru kepada anak atau muridnya. Semua anak atau murid bukan hanya mempelajarinya saja, tetapi semua arahan buku ini harus diterapkan dan benar-benar melekat pada diri anak, sehingga pada zaman Tiongkok kuno banyak menumbuhkan orang berbudi dan saleh yang terkenal di dunia sampai saat ini.[3]

Pada masa sekarang, Di Zi Gui sudah diterapkan di perusahaan-perusahaan besar di Malaysia, China, dan Singapura. Di Zi Gui juga dimasukkan sebagai bahan pelatihan sistem manajemen untuk staf dan karyawan. Dikatakan bahwa, selain terjadi perbaikan secara ekonomi, para karyawan juga merasa puas dan gembira bekerja di perusahaan tersebut. Anggota keluarga juga merasa aman dan bahagia karena anak, suami, atau istri mereka bekerja di perusahaan yang sangat manusiawi.

Pelajaran Budi pekerti ini akan memberikan tuntunan tentang tata cara berperilaku dalam seluruh aspek kehidupan dan keseharian kita. Misalnya sebagai anak kita harus berbakti dan patuh pada orang tua, hormat pada kakak, sayang pada adik dan santun, lembut dalam bertutur kata. Begitu pula dalam bergaul di masyarakat luas, kita harus sangat berhati-hati dan mawas diri, dalam pengertian, mampu mengendalikan cara berpikir, cara berbuat, dan cara bertutur kata.

Selain itu, kita harus mampu menjaga kebersamaan, jangan sampai mempertajam perbedaan. Tebarkan kasih sayang antar sesama, menyenangkan dalam bergaul, dan mampu belajar dengan tekun, meneladani orang-orang arif bijaksana serta selalu menepati janji.

Bila keseluruhan aspek moral, budi pekerti, akhlaq dan tata krama sudah dikuasai, berusahalah menambah dan mempelajari ilmu lain yang lebih bermanfaat. Agar seorang bisa menjadi anak yang berbudi luhur dan memiliki dedikasi yang tinggi.

Dari sisi tujuan pendidikan

Zaman dahulu, orang tua di China berpendapat bahwa pembentukan perilaku luhur dan etika harus diutamakan, baru mempelajari ilmu lain. Karena kalau anak tidak dididik dengan benar, ilmu lain yang ia pelajari bisa menjadi bumerang bagi bangsa dan negara. Tujuan pendidikan Di Zi Gui ini adalah untuk membentuk manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani, jadi andalan keluarga, dan terakhir mengabdi kepada bangsa dan negara.


Berikut adalah Uraian isi dari Di Zi Gui.


Bakti Pada Orang Tua ( menerima nasihat )

Dalam hubungan antara anak dengan orang tua, rasa santun, hormat, patuh dan berbakti, harus diutamakan. Bila orang tua memanggil harus segera di jawab, jangan mengabaikannya, jangan acuh tak acuh.

Bila orang tua menugaskan kita untuk melakukan sesuatu, segera laksanakan. Jangan mencari-cari alasan untuk menundanya. Jangan malas, apalagi menolak tugas itu. Bila orang tua memberi petunjuk dan nasihat, dengarkan dengan seksama dan ikuti dengan perbuatan. Orang tua pasti akan mengajarkan kita ilmu dan adab yang luhur, bersih dan lurus. Nasihat itu pasti akan menyelamatkan kita dalam bergaul ditengah masyarakat luas. Oleh karena itu, dengarkan nasihat itu dengan hormat, santun dan rasa kagum, lalu praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bila kita terlanjur salah, khilaf dan keliru lalu ditegur atau dimarahi orang tua, jangan membantah. Kita harus menerima teguran itu dengan lapang hati dan berjanji pada beliau untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan buat orang tua bersedih hati melihat kelakukan kita yang salah tapi tidak mau memperbaiki diri. Anak yang berbakti akan senang membaca petunjuk ini, sementara anak durhaka tidak akan senang dan mungkin marah.


Menyenangkan Hati Orang Tua

Orang tua sudah berbuat sangat banyak untuk kepentingan kita. Maka sangat layaklah kiranya kalau kita berusaha membalasnya, dengan melayani kebutuhan orang tua kita dengan seikhlas-ikhlasnya, sebaik-baiknya dan sepenuh hati.

Ada 24 langkah berbakit bagi seorang anak, dikisahkan seorang anak bernama Huang Xiang, yang sangat sayang pada orang tuanya. Dia sangat memikirkan dan mengusahakan agar orang tuanya selalu bisa tidur dengan nyenyak. Bila musim panas datang, dia segera mengganti seprei dengan yang tipis, yang menyerap keringat dan yang sejuk. Bila perlu, kipasi dulu tempat tidurnya sebelum beliau menggunakannya. Sebaliknya bila musin dingin tiba, dia bergegas pula mengganti sepreinya dengan yang lebih tebal dan hangat beberapa lapis. Bila perlu dia menghangatkan dulu tempat tidur beliau dengan berbaring diatasnya.

Contoh budi pekerti Huang Xiang ini perlu kita teladani. Biasakanlah mencari dan memperhatikan orang tua kita terlebih dahulu. Begitu kita bangun pagi sapa beliau dengan santun dan tanya apa keperluan beliau. Begitu pula setiap pulang ke rumah dari perjalanan ke suatu tempat, temui dulu beliau, sapa dengan santun dan tanya apa keperluan beliau. Ceritakan apa pengalaman dan apa yang kita lihat selama perjalanan itu, agar beliau tenang dan senang.

Setiap kita hendak bepergian, harus pamit dan minta izin lebih dulu kepada beliau. Beritahu kemana kita akan pergi dan apa tujuannya. Begitu pula setiap kita pulang dari bepergian, sapa dulu beliau dan laporkan kejadian dalam perjalanan kita tersebut.

Hal lain yang akan membahagiakan orang tua adalah kemantapan kita dalam beraktivitas dan berkegiatan. Jangan sampai kita seperti orang yang selalu gelisah, tidak berketetapan hati, suka berganti-ganti pekerjaan, kegiatan dan profesi. Kemantapan dan ketekunan kita dalam suatu kegiatan akan membawa kita semakin ahli dalam kegiatan tersebut, dan hal itu akan semakin membahagiakan orang tua.


Jangan Mendahului Orang Tua

Keberanian menuntaskan sesuatu hal adalah suatu sifat yang dibutuhkan. Namun proses untuk bisa menuntaskan sendiri itu sangatlah panjang dan harus melalui latihan yang berulang kali. Pada masa kita masih perlu dibimbing dan dididik orang tua, belajarlah lebih banyak cara mengambil keputusan dari orang tua, sebelum mampu melakukannya sendiri.

Walaupun untuk urusan sekecil apapun, jangan sembarangan mengambil keputusan. Haruslah melapor, berdiskusi dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan orang tua. Bila kita terlalu mudah mengambil keputusan sendiri, banyak kemungkinan akan melakukan kesalahan yang merugikan. Terlalu berani berinisiatif tanpa konsultasi ini juga melanggar kodrat.

Orang tua kita akan sangat khawatir akibat kesalahan kita dalam mengambil keputusan atau inisiatif. Perbuatan ini jelas merupakan perbuatan yang tidak berbakti. Walaupun kita sangat menyukai suatu benda yang bukan milik kita,jangan sampai kita mengambilnya. Meskipun benda itu kelihatannya kurang berharga, kalau belum menjadi milik kita, jangan diambil dengan cara apapun juga.

Kalau ini dilakukan, maka orang tua kita pasti akan merasa malu dan kecewa. Nama baik kita pun akan tercela karenanya. Alkisah, ada seorang Jenderal yang terkenal bersih di jaman Dinasti Jin bernama Tao Kan. Dia menjadi terkenal karena didikan ibundanya yang disiplin dan keras. Pernah suatu kali, sewaktu Tao Kan masih pegawai rendahan di pabrik pengolahan ikan, dia mengirimi sang ibunda dengan sekaleng ikan asin yang sebenarnya milik negara. Ibundanya marah dan mengembalikan kaleng itu kepada anaknya disertai sepotong kata bijak yang mendidik. Sebagai pejabat kecil saja, kau sudah mengambil barang milik negara. Ini perbuatan yang tidak terpuji.


Menyenangkan Orang Tua

Barang-barang yang disenangi orang tua harus kita siapkan. Perbuatan yang disenangi orang tua harus kita lakukan dengan sebaik mungkin. Sebaliknya barang-barang dan perbuatan-perbuatan yang tidak disenangi orang tua harus kita jauhkan. Berusahalah merubah tingkah laku yang buruk.


Menjaga Kesehatan Jiwa Dan Raga

Orang tua akan sangat cemas dan khawatir bila kita sakit, terluka atau badan kumuh dan tidak terawat. Oleh karena itu, kita harus menjaga kesehatan jasmani, jangan sampai sakit, terkilir dan terluka.

Jangan sampai kelalaian kita membuat orang tua kita cemas. Orang tua juga akan malu apabila tingkah laku kita tidak baik. “ Zeng Zi berkata “ Rambut, kulit dan badan ini berasal dari orang tua, karena itu tidak boleh sembarangan dilukai atau disakiti sehingga perlu di jaga. 


Menghadapi Berbeda Pendapat Dengan Orang Tua

Pada dasarnya, orang tua menyayangi anaknya dengan sepenuh hatinya. Oleh karena itulah kita harus berbakti dan perbuatan berbakti itu sebenarnya tidaklah sulit. Yang kadang-kadang terasa sakit adalah bila kita berbeda pendapat dengan orang tua kita. Suatu kali mungkin kita merasa orang tua kita terlalu kolot, maka disinilah dibutuhkan kepatuhan seorang anak. Bila terjadi keadaan seperti diatas, maka kita harus dengan lapang dada mengikuti cara beliau itu dan tetap berbakti. Kita harus berusaha memahami mengapa beliau begitu.

Beliau pasti sayang kita. Mungkin ilmu dan pengalaman hidup kita yang belum mencukupi. Kita harus berani melakukan introspeksi secara jujur lalu memperbaiki diri sehingga sesuai dengan kehendak orang tua. Adab berbeda pendapat seperti ini sungguh amat sulit, sehingga adab ini adalah adab terpuji yang harus dilatih semua anak yang ingin berbakti.


Menghadapi Orang Tua Yang Tersalah

Bagaimanapun hebatnya orang tua kita adalah manusia biasa yang tidak luput dari berbuat salah, keliru dan terlanjur. Bila sekali waktu beliau terlanjur berbuat salah kita hrus tetap hormat pada beliau, memahami beliau dan setahap demi setahap mengingatkan beliau.

Mengingatkan ini harus dilakukan dengan santun, hati-hati, tulus dan perlahan-lahan dengan tutur kata yang lembut, penuh kasih sayang dan sikap manis yang menyenangkan. Bila pada tahap awal beliau belum bisa menerima koreksi dan pendapat kita, maka kita tetap harus sabar dan penuh kesantunan mencobanya lagi. Carilah hari lain di waktu hati beliau lebih santai dan terbuka, coba dan coba lagi. Walau sampai keluar air mata saking sedihnya, tetaplah bermohon pada beliau untuk berubah sikap.

Walau mungkin beliau sampai terlupa lalu memukul kita, jangan menyesal dan putus asa. Selalulah tetap mencoba. Kalau beliau dibiarkan terbiasa berbuat salah yang berulang-ulang, bisa merugikan kita semua.


Mengurusi Orang Tua Sakit Sampai Meninggal 

Orang tua kita dalam mengurusi kita, kadang-kadang sampai melupakan kebutuhan dan kesehatannya sendiri. Kadang-kadang kita mendapati beliau sakit. Beliau butuh perhatian dan kasih sayang anaknya yang tulus dan sungguh-sungguh. Kita harus mengerahkan daya upaya dan dana kita untuk mengobati beliau. Kita harus menjaga beliau dengan baik, menyelimuti jangan sampai kedinginan, menyuapi beliau jangan sampai kurang asupan gizi, mengurut beliau, membelai beliau dan menunjukkan kasih sayang kita.

Bila ternyata penyakit beliau bertambah parah, harus ditambah pula perhatian dan kasih sayang kita. Jangan tinggalkan beliau barang sekejap pun. Pagi, petang, siang dan malam urus kebutuhan beliau dan jaga beliau dengan baik.

Bila akhirnya beliau dipanggil Yang Maha Kuasa, tunjukkan kesedihan dan kedukaan yang mendalam secara bersungguh-sungguh, bukan dibuat-buat dan pura-pura. Kehilangan beliau adalah kehilangan penerang hidup kita sehingga kita benar-benar berduka. Selama masa berduka atau berkabung itu, kita hrus mengatur semua tingkah laku dan cara bicara kita. Janganlah segala kebaikan dan kasih sayang serta pengorbanan yang telah beliau berikan kepada kita, yang tanpa pamrih dan tanpa mengharap balas jasa, kita abaikan begitu saja.

Berterima kasihlah kepada beliau dan tetaplah mengingat jasa dan kebaikan beliau. Oleh karena itulah, dalam masa berkabung itu kita harus meninggalkan kebiasaan bersenang-senang, jangan meminum minuman yang memabukkan dan bahkan jangan makan makanan yang mewah dan berlebihan. Dahulu kala, masa berkabung ini bahkan sampai tiga tahun.

Upacara penghormatan jenazah orang tua kita yang telah wafat pun harus dengan mengikuti kaidah yang logis. Jangan sampai berlebih-lebihan melebihi kemampuan kita yang wajar. Jangan sampai demi gengsi, dihamburkan dana secara berlebihan. Adalah kebiasaan yang salah bila dalam penyelenggaraan jenazah inikita pamer keberadaan keuangan kita dengan membuang uang secara percuma. Cara ini hanyalah menonjolkan kesombongan keuangan kita untuk menutupi sikap yang sebelumnya kurang berbakti pada orang tua.

Sebaliknya tidak boleh pula dilaksanakan dengan sembarangan saja. Prosesi penghormatan jenazahnya harus dilakukan dengan khidmat dan sepenuh hati serta tetap menaruh hormat, sama seperti hormatnya kita sewaktu beliau masih hidup.


Mengenai Hubungan Saudara-Saudara / Kasih Sayang Dengan Saudara

Sesama saudara haruslah saling menyayangi. Sebagai kakak haruslah melindungi dan menyayangi adik-adiknya. Sebagai seorang adik, sebaliknya haruslah hormat pada `kakak-kakaknya.

Dengan demikian adik haruslah bisa rukun bernaung hidup dalam satu atap dengan kakaknya, begitu pula sebaliknya. Bila antara bersaudara terlihat rukun dan bahagia, maka orang tua akan merasa senang.

Dalam bergaul di masyarakat janganlah selalu menghitung untung rugi. Menghitung-hitung untung rugi ini seringkali menimbulkan rasa marah dan emosi yang tak terkendali.

Sebaliknya, selalulah bertutur kata yang santun, suka mengayomi, melindungi, suka mengalah, berbicara dengan lembut, tidak menggunakan kata-kata kotor dan mampu mengendalikan emosi. Semua perilaku di atas akan menghindarkan seseorang dari pertikaian dan pertentangan yang tidak perlu atau rasa `benci dan amarah.

“Tutur bahasa adalah pintu malapetaka atau bisa juga menjadi pintu keberuntungan. Nabi Khongcu/ Kong Fu Zi membagi ajarannya dalam empat cabang ilmu yaitu ilmu budi pekerti, tutur bahasa, sosial politik dan sastra. Dari kutipan tadi dapat dipahami bahwa tutur bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam ajaran Kong Fu Zi “.


Sopan Santun Dengan Saudara

Pendidikan sopan santun (etika-tata krama) haruslah dimulai sejak dini, semenjak usia belia. Dalam seluruh kegiatan sehari-hari, tata krama ini harus dipraktekkan. Mulai dari tata cara makan, duduk atau berjalan. Kita dituntun untuk senantiasa rendah hati dan selalu mengalah.

Yang sulung dan yang bungsu selalu ada urutannya. Jangan lupa memprioritaskan yang tua lebih dahulu, baru yang muda, sehingga yang lebih muda selalu mengalah. Bila seorang yang lebih tua memanggil seorang yang lebih muda dan orang yang dicari tidak ada ditempat pada waktu itu, maka kita yang lebih muda harus berinisiatif untuk menemui saudara yang lebih tua itu. Dan bertanya padanya, apa ada sesuatu yang bisa dibantu.

Kalau kita bisa membantu mengerjakannya, bantulah. Bila kita tidak mampu melakukannya maka janjikanlah, bahwa kita akan membantu menyampaikannya kepada yang bersangkutan.

“Tujuan utama kehidupan ini adalah mengabdi, bukanlah memiliki “ Anak-anak muda harus selalu ingat pepatah diatas. Membantu orang lain adalah sumber kebahagiaan.


Bila Bersama Sesepuh Di satu Tempat

Berada disuatu tempat dengan sesepuh, harus ikuti kegiatan beliau. Bila beliau masih berdiri, kia pun harus ikut berdiri. Bila beliau belum mempersilahkan duduk, janganlah duduk terlebih dahulu.

Bila berbicara dengan sesepuh, suara harus lembut dan tenang. Bila menjawab pertanyaan beliau. Suara harus sedemikian rupa pasnya, jangan terlalu kecil sehingga tidak terdengar.

Bila kita ada keperluan menghadap sesepuh harus dengan cekatan tampil ke depan dan bila telah selesai, kembali ke tempat semula dengan perlahan. Bila sesepuh menyampaikan atau bertanya tentang sesuatu, dengarkanlah dulu dengan seksama dan penuh perhatian. Jangan mendengar dengan mata yang melirik ke kanan kiri. Sering terjadi orang yang bertutur sapa hanya sekedar basa basi tanpa diikuti dengan kesungguhan hati. Pikiran dan perhatiannya tidak tertuju pada sesepuh yang sedang dihadapinya.


Bakti Pada Sesepuh Dan Keluarganya

Berurusan dengan para sesepuh, misalnya paman bibi dan keluarganya haruslah dengan sikap sopan, hormat dan berbakti pada beliau seakan kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri.

Begitu pula berhubungan dengan keluarga beliau. Saudara sepupu kita misalnya, haruslah pula bersikap sayang dan hormat seperti kita sayang dan hormat pada saudara kita sendiri.


Hormat Dan Santun Pada Sesepuh 

Menyapa sesepuh tidak boleh memanggil namanya secara langsung. Dihadapan sesepuh harus rendah hati, hormat dan santun. Jangan berlagak berlebihan (over acting) memamerkan kelebihan, kebolehan dan kemampuan diri. Kecongkakan seperti ini akan merugikan kita dan sesepuh akan berpikir dua kali untuk membantu dan membimbingnya.

Bila bertemu sesepuh di jalanan, jangan menghindar, harus berilah salam dengan menghadapkan muka pada beliau. Bila sesepuh, karena suatu alasan tertentu tidak memberi reaksi, beranjaklah mundur dan jangan repotkan beliau.  

Dahulu kala, bila bertemu sesepuh sementara kita berada di dalam kereta (baik mengendarai sendiri maupun menumpang), segeralah turun dari kendaraan dan beri salam.

Tunggulah dulu hingga beliau meninggalkan tempat itu sampai berjarak agak jauh, beberapa ratus langkah, barulah kita boleh melanjutkan perjalanan. Memberi kesempatan kepada sesepuh untuk berjalan lebih dahulu, itu merupakan wujud penghormatan kepada sesepuh.


Mawas Diri

Menghargai Waktu. Sebagai seorang anak, kita harus bisa menghargai dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita harus bangun pagi dan tidur tidak terlalu cepat. Tapi hal ini bukan berarti harus begadang atau tidur larut malam. Kebiasaan ini bukan hanya tidak baik terhadap kesehatan, juga akan mempengaruhi kekuatan fisik kita dalam beraktivitas di siang hari.

Bumi tidak pernah berhenti berputar. Waktu tetap berjalan tanpa kenal henti. Masa muda harus dihargai. Pepatah mengatakan : kalau waktu muda tidak giat berusaha maka pada masa tua akan menyesal.

Biasakanlah hidup disiplin dan teratur. Bangun pagi segera mandi, cuci muka, berkumur-kumur agar kesegaran timbul, semangat tumbuh dan itu adalah awal dari hari yang cerah. Sehabis buang air, baik buang air kecil maupun buang air besar, cuci kedua tangan dengan bersih. Biasakanlah hidup bersih sehingga kesehatan kita terjaga. Ingat penyakit bisa menular, bila kita tidak mencuci tangan dengan bersih dan baik. Kebersihan adalah pangkal kesehatan.


Jaga Keterampilan

Penampilan harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.Tata busana harus bersih, rapi serasi. Bila memakai topi harus pas ukuran, warna dan tempatnya. Kancing baju terpasang rapi, kaus kaki terpasang rapi, ikat pinggang dikenakan rapi. Semua ini akan membuat jalan kita gagah, tidak lingling bagai orang tersandung. Kerapihan dan keanggunan harus diutamakan dalam berbusana. Busana mencerminkan citra pribadi kita.

Tiba di rumah dari perjalanan, semua harus dikembalikan pada tempatnya. Baju, topi, sepatu, kaus kaki dan lain-lain harus dikembalikan ke tempat yang telah disiapkan semula agar sewaktu akan mengenakannya lagi tak perlu mencari kemana-mana. Barang besar dan berat tempatkan di bagian yang mudah dijangkau. Barang halus kecil tempatkan pada posisi yang mduah dicari. Membiasakan hidup teratur dan rapi sudah merupakan separuh dari kesuksesan pekerjaan kita.


Berlakulah Hemat Dan Seimbang

Dalam berpakaian, jangan pilih karena mahal, bermerk dan mewahnya. Pilihlah karena kerapihan dan kebersihannya. Pertimbangkan pula kecocokannya dengan status diri dan kondisi tempat yang akan kita kunjungi. Juga sangat penting pertimbangan kemampuan keuangan kita untuk membelinya.

Kita harus bisa mengelola keuangan keluarga dengan seimbang (proporsional). Jangan demi gengsi dan pamer diri, dipaksakan membeli pakaian yang berharga tinggi. Pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu adalah pemborosan. Pepatah kita mengatakan hemat pangkal kaya.

Dalam hal makanan jangan terlalu memilih-milih. Apa yang ada manfaatkan dan konsumsi sebaik-baiknya. Bisa terjadi disuatu ketika nanti, disuatu tempat tertentu kita tidak memperoleh makanan yang kita mau, sehingga kita harus bisa menerima apa adanya. Maka kebiasaan tidak memilih-milih apa yang akan dimakan ini akan sangat berguna.

Makanlah secukupnya jangan berlebihan dan teratur pada waktunya. Bila ini dilakukan, kita akan terhindar dari kegemukan, yang hanya menambah beratnya beban tubuh yang disangga kaki dan akhirnya merusak kesehatan.

Minuman keras dan beralkohol dan Narkoba harus dihindarkan sejauh-jauhnya, karena sangat merugikan kesehatan. Kita harus patuh pada hukum yang melarang minuman yang memabukkan. Remaja muda dan anak-anak yang belum dewasa harus berpantang minuman keras. Orang yang sudah dewasa pun tetap jangan meminum keras apalagi berlebihan.

Lihatlah orang yang mabuk. Dia berkelakuan sangat buruk, melantur dan berbuat tidak terpuji. Dalam keadaan mabuk, kebejatannya akan terkuak semua.Ini adalah sumber malapetaka. Yang tidak kalah berbahayanya adalah mengkonsumsi narkoba dan obat-obat terlarang lainnya. Katakan “TIDAK UNTUK NARKOBA “ semua itu akan menghilangkan harkat dan martabat manusia. 


Bersikap Gagah Namun Tetap Sopan

Sewaktu berjalan langkah harus mantap dan pasti, jangan tergopoh-gopoh, jangan terburu-buru tapi jangan pula lamban tak bertenaga. Berdiri harus tegak dan gagah. Busungkan dada, tegakkan kepala, bersemangat penuh gairah. Badan tidak boleh membungkuk lemah dan lunglai tak bersemangat.

Berinteraksi dengan orang lain haruslah dengan rasa hormat yang tinggi dan sungguh-sungguh, jauh dari basa basi dan asal-asalan. Misalnya menyapa orang lain baik dengan cara membungkuk hormat (soja) maupun mengangguk harus dengan sikap hormat yang ikhlas dan sungguh-sungguh dari hati kecil, bukan asal-asalan dan basa-basi.
topik pembicaraan yang memang perlu diketahui orang lain. Hal-hal yang tidak pantas didengar, jangan diobral

Jaga lidahmu, berbicara dengan hati-hati, jangan menyinggung perasaan orang lain, ngegombal, ngegosip dan yang menjurus pada pornografi. Ucapan yang keluar dari mulut kita haruslah sesuatu yang benar-benar punya arti dan maksud yang jelas. Jangan berbicara yang muluk-muluk tak berarti.

Jauhilah ucapan-ucapan yang membuat orang bingung, ucapan yang berselera rendah, jorok dan kotor. Ucapan kasar dan prilaku yang biasa dipakai para berandalan di jalanan, seyogyanya tidak keluar dari mulut orang yang berakhlak baik.

Bicaralah Apa Yang Diketahui Dan Hindari Gosip

Persoalan apapun, sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, jangan sembarang memberikan komentar. Sebelum mengerti dulu persoalannya jangan sebar luaskan. Jangan sampai terjadi yang tidak kita inginkan. Gosip akan berhenti di hadapan orang bijak. Janganlah terpengaruh dengan gosip-gosip.

Jangan membuat janji sembarangan menyangkut hal-hal yang tidak masuk akal. Jika telah melakukan janji kosong, maka akan berakibat salah langkah. Maju salah, mundur pun salah.

Ucapan harus tegas dan jelas, oleh karena itu berbicaralah dengan tenang, mantap dan utarakan maksud dengan jernih. Janganlah terburu-buru, sehingga permasalahannya menjadi kabur.

Jika bertemu dengan orang yang menyampaikan gosip, dengarkan saja, analisa dengan bijaksana, jangan terpengaruh, apalagi ikut-ikutan. Jika itu urusan pribadi orang lain dan tidak berhubungan dengan kita, jangan ikut campur.


Introspeksi Dan Kaji Diri

Kita harus belajar dan mencontoh kelebihan dan kearifan orang lain. Timbulkan niat untuk belajar dan mencontohnya. Walaupun mungkin rasanya sulit dan kemampuan kita belum memadai, tetaplah berusaha, bertekadlah untuk melakukan kebaikan seperti orang arif itu.

Sebaliknya bila melihat dan menemukan kelemahan atau perbuatan orang lain yang tidak terpuji, mawas dirilah, hati-hati jangan sampai terikuti. Kaji diri, introspeksi, apakah diri kita memiliki juga kekurangan seperti itu.

Kalau ternyata kitapun memiliki kelemahan yang sama, segera perbaiki diri. Lalu berusahalah lebih waspada, jangan terulangi. Belajarlah seperti orang bijak, kaji diri bila melihat kekurangan orang lain. Bila ternyata kita tidak melakukan perbuatan seperti itu, tetaplah waspada dan jangan sampai suatu hari nanti kita tergelincir.

Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, tapi orang yang segera memperbaiki diri setelah terlanjur berbuat salah.

Nabi Kongcu/ Kong Fu Zi berkata : Mengerti kesalahan dan bisa mengubahnya adalah kebajikan yang terbesar. Tambahnya lagi : orang yang tahu malu adalah orang yang pemberani.


Kasih Sayang/Kesamaan Manusia 

Semua manusia pada dasarnya sama, berasal dari yang satu, sehingga semuanya adalah serumpun. Jangan sampai ada perbedaan-perbedaan yang mengundang pertikaian berdasarkan ras, keturunan, warna kulit, golongan ataupun agama.

Semua manusia harus saling berkasih sayang dan saling bekerja sama. Semua manusia berasal dari satu kandungan alam semesta ini. Jangan dibesar-besarkan perbedaan saya dengan kamu. Semua harus saling membantu, bekerja sama demi menjaga keharmonisan dan kesejahteraan kehidupan bersama. Orang bijak mengatakan : binatang bertahan hidup dengan saling mengalahkan, manusia bertahan hidup dengan saling kerjasama.


Arif Bijaksana, Dekati/bergaulah dengan Orang Arif

Manusia itu sangat beragam. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang cerdas, ada yang terbelakang. Ada yang gagah lengkap dan ada yang cacat. Manusia pada umumnya (orang kebanyakan) akan terpengaruh keadaan, mengikuti kecenderungan arus mode. Namun manusia arif bijaksana amatlah langka.

Bila ada seseorang yang berbudi luhur tampil ditengah masyarakat, serta merta dia akan menjadi pusat perhatian. Orang akan menganguminya dan dia jadi panutan. Ucapannya mengandung kebenaran, lepas dari kepentingan pribadi. Dia tidak menjilat. Dia tidak punya rahasia-rahasia. Semua orang hormat padanya.

Bila ada kesempatan, belajarlah pada orang arif. Mereka akan membimbing kita untuk maju. Kesalahan dan kekurangan kita akan menyusut. Bila enggan, tidak mau berguru pada orang arif itu, kita akan menderita dengan kesengsaraan yang tak berujung.

Karena manusia berakhlak rendah akan menyusup menyelinap, untuk mengajak kita berbuat yang tidak terpuji sehingga dari hari ke hari dosa kia akan semakin menumpuk. Tingkah laku dan ucapan kita akan ikut terpengaruh, menjadi jahat dan berbisa, yang akhirnya akan menjerumuskan kehidupan kita.


Dahulukan Ajaran Moral Baru Ilmu Pengetahuan Dan Seni Rupa

Ilmu Dan Amal

Bila kita sudah banyak membaca, sudah banyak berbekal teori tentang kebajikan, sudah banyak belajar, tapi tidak bisa mempraktekkannya, maka akan sia-sialah pembelajaran kita. Buat apa banyak belajar bila kita tidak mampu bakti kepada orang tua, tidak hormat pada sesepuh, tidak mampu memegang janji, tidak mampu berkasih sayang dengan sesama dan tidak mampu berbuat arif bijaksana.

Bisa jadi orang rajin membaca buku, punya bekal sedikit ilmu tapi kalau tidak bisa dipraktekkan, semua itu hanya akan menambah tabiat buruk kita yang hanya memahami kebenaran semu. Buat apa belajar dan membaca kalau akhirnya kita menjadi manusia yang tidak realistis,

Namun sebaliknya, bila kita hanya bisa berbuat dan berbuat terus tanpa dibekali ilmu dan malas membaca, maka perbuatan kita itu tidak terarah. Perbuatan tersebut hanya akan mengikuti kehendak hati pribadi saja tanpa landasan yang benar. Hal ini akan memutar balikkan kebenaran dan itu sangat salah.

Nabi Kongcu/ Kong Fu Zi mewasiatkan : belajar terus tanpa pernah mempraktekkannya akan menimbulkan kebimbangan. Namun berbuat terus tanpa mau belajar akan menjadi berbahaya.

adalah karena situasi batin yang tidak tenang. Tata letak buku bacaan, juga harus sedemikian rapi dan sistematisnya. Kelompokkan buku dalam kelompok yang sama sesuai klasifikasinya. Bila telah usai membaca, tempatkan kembali buku tersebut ke tempatnya semula

Bila ada urusan penting yang membuat kita harus meninggalkan ruang baca dengan mendadak, kembalikan dulu buku yang tengah dibaca ke tempatnya semula, baru boleh meninggalkan tempat. Buku adalah intisari kecerdasan orang-orang bijak.

Bila buku sampai rusak karena dibaca, cepat diperbaiki, ditambal, dijahit atau dilem agar tidak cepat rusak. Orang dahulu, sangat sulit mendapatkan buku. Oleh karena itu, bila ternyata rusak harus diperbaiki dan ditambal terus.

Buku-buku picisan yang bukan dikarang orang-orang bijak dan suci harus segera dicampakkan. Jangan sampai jiwa dan pemikiran kita sempat terkontaminasi atau tercemar. Bila hati kita ditutup untuk suatu ilmu kebajikan, maka pikiran akan menjadi kotor, tidak sehat, lalu bila kita sering berhadapan dengan suatu kesulitan atau rongrongan, kita akan cepat menjadi putus asa.

Sayangilah diri sendiri, perluaslah wawasan. Jangan suka menyalahkan orang lain. Kalau kita menemui sesuatu yang tidak berkenan di hati, introspeksilah, kaji diri. Tingkatan orang bijak dan suci memang tinggi sekali. Tapi bila kita ada kemauan untuk mencapainya, kita akan mampu juga seperti mereka dengan melatih diri, namun dituntut kesungguhan untuk selalu mencoba dan mencoba lagi.

Meng Zi berkata : orang terhormat maupun orang biasa, yang terbaik dari mereka itu adalah orang yang selalu berusaha menjadi baik.

Semoga bermanfaat bagi diri kita sehari-hari maupun keluarga.






Sabtu, 16 Desember 2023

Pernahkah Kita Burn Out dalam Bekerja lalu Cara Mengatasinya

Jika Kita mencari di Internet tentang cara menghindari kejenuhan, ternyata tidak sendirian. Pencarian via google seputar subjek tersebut telah meningkat pesat selama beberapa tahun ini, yang menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang merasa berada di titik puncaknya di setiap pekerjaan yang ada saat ini. Tidak mengherankan, mengingat krisis biaya hidup dan iklim global saat ini.


Apa itu burnout syndrome?

Burnout syndrome adalah salah satu kondisi stres yang berhubungan dengan pekerjaan. Itu sebabnya, kondisi kesehatan yang satu ini juga dikenal sebagai occupational burnout atau job burnout.

Kondisi ini ditandai dengan kelelahan secara fisik dan emosional, akibat ekspektasi dan kenyataan karyawan di posisinya tidak berjalan sesuai yang dibayangkan.

Karena itu, penting untuk kita mengetahui kapan stres datang dan menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kita semua tahu tanda-tanda stres, tetapi terlalu mudah untuk mengabaikannya sebagai bagian dari keseharian yang kita jalani. 

Semua manusia hidup pernah stres, bukan?

Benar - tetapi kelelahan (burnout) adalah suatu hal yang berbeda dari Stres sama sekali. Menurut Mental Health UK, kelelahan sebenarnya menggambarkan kelelahan fisik dan mental. "Itu dapat terjadi ketika Anda mengalami stres jangka panjang dalam pekerjaan Anda, atau ketika Anda telah bekerja dalam peran yang menguras fisik atau emosional untuk waktu yang lama".

Tidak yakin bagaimana gejala kelelahan muncul dengan sendirinya? Tanda-tanda umum kita mungkin mengalami kelelahan termasuk merasa terus-menerus lelah atau terkuras, terpisah, depresi, atau kewalahan.

Bahkan sebuah studi baru-baru yang saya baca menemukan 84% generasi milenial pernah mengalami kejenuhan dalam pekerjaan mereka saat ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hampir setiap anak atau remaja dan setiap orang dewasa akan terpengaruh oleh kelelahan di beberapa titik dalam kehidupan aktifnya. 

Situasi ini begitu meluas di negara-negara maju sehingga WHO telah menambahkan kejenuhan (burnout) ke dalam daftar penyakit yang diakui secara global, mendefinisikannya sebagai sindrom "stres tempat kerja kronis yang belum berhasil dikelola" yang "mencakup perasaan kehabisan energi atau kelelahan, akibatnya dalam jarak mental yang meningkat dari pekerjaan seseorang dan mengurangi produktifitas para profesional.

Setiap pekerjaan pasti memiliki tantangan, hambatan, dan kesulitannya masing-masing. Seringnya ini menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang merasa sangat lelah sehingga sebuah pekerjaan tidak dapat dikerjakan dengan cepat dan menguras waktu.

Akibat yang ditimbulkan dari semua ini adalah stres. Dewasa ini masyarakat sudah tidak asing lagi mendengar istilah stres. Stres kerja diartikan sebagai suatu situasi yang tercipta dimana faktor terkait pekerjaan (work related factors) berinteraksi dengan faktor di dalam diri karyawan, dan merubah kondisi fisiologis dan/atau psikologis sedemikian rupa sehingga memaksa seseorang menyimpang dari fungsi normalnya (Bernadin, 1990).

Berikut ini adalah diagram dari Dimensi Burn Out ala (Baron & Greenberg, 1990).


Burn out ditandai dengan tiga hal, pertama kelelahan fisik. Mereka yang mengalami burn out akan selalu merasa kekurangan energi dan merasa lelah sepanjang waktu. Kedua, ditandai dengan kelelahan emosional.

Depresi, perasaan tidak berdaya, merasa terperangkap di dalam pekerjaannya. Ketiga, mereka yang mengalami burn out akan sering menunjukkan kelelahan sikap atau mental. Mereka akan mulai merasa sinis dan negatif terhadap orang lain maupun pekerjaannya sehingga cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan, organisasi, dan kehidupan pada umumnya

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang dapat mengalami burn out dalam bekerja?

Burn out atau kelelahan kerja adalah hasil dari stres, kelelahan, dan ketidakpuasaan di tempat kerja. Berdasarkan hasil penelitian University Zaragoza di Spanyol, ada tiga kelompok faktor yang melatarbelakangi burn out, antara lain adalah sebagai berikut :

1. Bekerja Terlalu Keras

Salah satu penyebab burn out adalah karyawan bekerja terlalu keras karena terobsesi dengan kesuksesan. Mereka biasanya memiliki beban kerja yang berlebih daripada yang seharusnya, sehingga seringnya rela mengorbankan kehidupan personal dan kesehatan.

2. Tidak Mendapat Apresiasi

Apresiasi terhadap hasil pekerjaan sangat penting dalam menjaga kesehatan mental dalam bekerja, dan faktor kedua yang membuat seseorang mengalami burn out dalam bekerja adalah merasa tidak cukup diapresiasi sehingga merasa frustasi dengan pekerjaan. Kondisi seperti inilah yang membuat seseorang merasa kurang tertantang dan mencoba menjauhkan diri dari tanggung jawab pekerjaan.

3. Dinamika Disfungsional di Tempat Kerja

Mendapatkan intimidasi di kantor, merasa diremehkan atau diacuhkan oleh rekan kerja dan bos dapat menjadi penyebab perasaan tak berdaya karena merasa tak memiliki peranan penting di dalam perusahaan. Kondisi ini berakibat pada penurunan motivasi kerja karena mengganggap diri mereka kurang kompeten dalam menjalankan tuntutan pekerjaan.

Selanjutnya bagaimana cara agar dapat mengatasi Burn Out ?

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi kelelahan dalam bekerja atau burn out dan saya mendapatkan beberapa tips dari internet, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Usahakan Tugas dan Beban Kerja Sesuai Dengan Kontrak Awal. Coba bandingkan tugas yang anda kerjakan sehari-hari dengan uraian pekerjaan yang ada pada kontrak awal bekerja. Terkadang tugas dan tanggung jawab yang dibebankan pada Anda porsinya terlalu berlebihan dari yang seharusnya anda kerjakan sehingga mengakibatkan sering mengalami kelelahan.
  2. Beri Batasan Yang Jelas Pada Diri Kita. Ketika mulai merasakan burn out, mungkin saatnya kita lah memutuskan untuk mengambil cuti. Merasakan liburan sejenak untuk memulihkan kesehatan fisik, maupun kesehatan mental. Ketika sedang libur, jangan pernah menelepon atau memeriksa email kantor. Fokus pada diri sendiri dan ciptakan waktu yang berkualitas untuk memanjakan diri serta orang-orang terdekat kita.
  3. Kelilingi Diri Dengan Energi Positif. "Menerima energi positif dari orang lain adalah pengalaman yang menggembirakan, demikian juga dengan mengekspresikan energi positif tersebut kepada orang lain" kata Leiter. Oleh karena itu ketika sedang merasakan burn out, ciptakan energi postif disekitar kita, bisa dengan berolahraga atau dengan berkumpul dengan orang orang terdekat. Hal ini efektif untuk saling menyebarkan dan menarik dukungan antara satu sama lain dan merupakan cara mengatasi burn out yang baik. Mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang berpikir serta bersikap positif dapat membuat kita tetap fokus, segar kembali, dan berenergi sepanjang hari. Hal ini dampaknya tentu membantu mengoptimalkan semangat dan produktivitas kerja kita nantinya.
  4. Olahraga secara rutin. Aktivitas fisik dapat membantu mengatasi stres dengan baik. Kegiatan ini juga dapat mengalihkan pikiran dari sesuatu yang membuatmu burnout.
Hal yang perlu diingat, tetaplah untuk berpikiran terbuka saat mempertimbangkan pilihan. Jangan biarkan pekerjaan yang menuntut merusak kesehatanmu. Apalagi kesehatan jadi terganggu akibat terpengaruh oleh sesuatu yang tidak menguntungkan.

Kelelahan dan stres dalam bekerja atau burn out bukanlah hal yang bisa disepelekan, karena dapat mempengaruhi produktivitas dalam bekerja maupun kualitas hidup. Jika anda sedang mengalami burn out segeralah bergegas untuk mengatasinya. Sebaliknya, jika saat ini kita dalam kondisi yang baik-baik saja maka lakukan upaya pencegahan dengan mengelola waktu dengan bijak, dan menciptakan suasana kerja yang positif agar dapat tetap bersemangat dalam bekerja.

Silahkan praktekan tips- tips diatas karena Saya sendiri mencoba mempraktekkannya saat ini.












Moral Compass

 The Definition

Moral compasses




A set of beliefs or values that help guide ethical decisions, judgments, and behavior: an internal sense or your personal set of beliefs and values regarding right and wrong.

Morals aren't fixed. They may change as you face new experiences in life, gain knowledge, or cope with hardships. Everyone's moral compass is unique.

A moral compass helps people make ethical decisions by helping to determine which actions would help or harm others, society, or the environment. It also helps people see how their actions can have consequences for other people and cultures.


So, how's your moral compass?


From my earliest childhood recollections living in the big city like Jakarta, I remember the lessons taught to me by my father and my mother: be a good kid, do what your elders tell you to do, stay out of trouble, including be nice to your big sister despite both of your age difference and always eating your vegetables every day.

As I grew, I attended church and Sunday school, where I received additional guidance that I have used throughout my life. At that time, the Ten Commandments were a lot for a small child to comprehend, but the Golden Rule just made so much sense:

Do unto others as you would have others do unto you. 


Later, I went off to the US to get my degree in business. Since my father already passed away while I was in the 4th grade, my mother, as a single parent, can only support me for the first 2 years, therefore I need to work while studying. Luckily for me, I have a community with several Indonesian students that helped and supported me during that time.

While working and studying in the US, I discovered that the majority of the people I knew—including my closest friends—were either members of the Pattiasina family or other friends who were helping settle during in the US, or else other American friends and coworkers had their own beliefs about what it meant to be a professional and ethical person in the real world.

Throughout my years as a formal employee in the US and my decades of career development in several corporations in Indonesia, having with my several mentors, I tried to always keep my Code of Ethics to guide my professional and personal life.

The world we live in is not the one I was born into. Times have changed so much, and what society allows is much different today than back then. When I was a younger man, your name, your reputation, and your word meant something. Being a junior, I also carried my big family's good name, so that also mattered in the town where I was born. Doing what's right is always the best thing to do.

Today, it seems that all those great attributes and ideals that I strove to attain for all these years are not as important to some folks as the monetary gain one might acquire at the expense of others.

Just because something is not illegal does not mean that it is not unethical, immoral, or goes against public welfare.

How you conduct your life and your career is how you’ll be judged in the end. Your moral compass.

How you want that story to be written is totally up to you and the decisions you make in your career and all other aspects of your life.

At the end of 2023, try to understand that it is not happiness that makes us grateful. But gratitude is what will make us happy. 2023 Wasn't My Best Year, but I Learned a Lot.

There is a great quote below,




Cheers.....