Senin, 02 Februari 2009

SEKILAS WAJAH EKSEKUTIF MUDA di tahun 1996

Mencapai posisi puncak dalam usia muda memang impian kebanyakan orang. Namun, tak semua orang beruntung bisa sampai ke sana. Bagaimana mereka, yang berusia masih di bawah 40 tahun bisa sampai pada posisi cukup menentukan di perusahaan tempat mereka bekerja?


Jawabnya, bisa jadi agak seragam, yakni kerja keras dan dedikasi yang tinggi. Namun, dalam menggeluti karier, ternyata mereka punya latar belakang dan gaya hidup yang berbeda-beda. Berikut sekilas tentang profil beberapa eksekutif muda yang bersedia memaparkan riwayat perjalanan karier, ambisi, serta lika-liku hidup mereka, kepada Warta Ekonomi.


DARJOTO SETYAWAN, 39, direktur Grup Ongko

Mula debut karier Darjoto ketika bergabung dengan Grup Ongko sebagai seorang asisten manajer, lima belas tahun silam. Tak lama kemudian jabatan manajer diraihnya. Dari situ karier pria alumnus Fakultas Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya ini seperti terbuka lebar. Setelah status manajer senior dilewatinya jenjang ke kursi direktur pun dipercayakan kepadanya ketika usianya menginjak tiga puluh satu tahun. Hingga jabatan sekarang sebagai direktur utama di perusahaan penghasil produk plastik kemasan milik taipan Kaharudin Ongko.

Meski posisi puncak diraihnya di usia yang relatif muda, toh proses penapakan semua lini manajemen sudah dijalaninya. Hal ini diyakini betul oleh Darjoto sebagai proses pematangan dirinya menjadi seorang eksekutif profesional. Tanpa melalui penjenjangan yang disebutnya juga sebagai proses penyaringan ini, kemungkinan bakal terjadi ketidakseimbangan dalam diri eksekutif. "Keseimbangan kepribadian itu diperlukan oleh seorang eksekutif karena dia bertindak selaku pimpinan perusahaan," ujar ayah dari dua puteri ini.

Makanya tak heran gaya penampilan sehari-hari Darjoto terkesan wajar-wajar saja. Bahkan jauh dari kesan kecenderungan eksekutif muda yang suka adu "pamer" diri. Baginya apa yang diperolehnya lebih baik dinikmati ketimbang menjadi atribut yang menyertai sebagai seorang profesional eksekutif. (HyL/IEW)


HANDOKO A. TANUADJI, 40, direktur PT Multipolar Corporation

Posisi puncak diraih Handoko A. Tanuadji di saat usianya terbilang muda, baru empat puluh tahun. Namun, di satu titik dalam perjalanan kariernya yang sedang menanjak, pria yang memegang tiga jabatan bergengsi seperti vice-president PT Multipolar Corporation, direktur PT Natrindo Global Telekomunikasi, presdir PT MultiFiling Mitra Indonesia ini malah sempat mengalami kegalauan. Persisnya ketika pada 1994 titik jenuh membelit semangat kerja Handoko. "Mau cuti panjang kok rasanya tidak produktif," kenang alumnus Fakultas Teknik Listrik Universtas Gadjah Mada (UGM) ini.

Alhasil, alternatif yang dipilih Handoko adalah kembali ke bangku sekolah dengan melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Sayangnya, manakala ide ini disodorkan kepada atasannya, sempat ditolak. Entah mengapa pula akhirnya pihak perusahaan mengizinkan. Bahkan sebagian biaya pendidikan itu disponsori perusahaan. Setahun setelah menimba ilmu di negeri Paman Sam, semangat tempur kerja pun bangkit kembali.

Dalam meniti karier, agaknya satu hal yang sepertinya sangat menjadi pertimbangan Handoko. Apalagi kalau bukan soal kesempatan yang luas untuk berkarya bagi eksekutif profesional seperti dirinya oleh si pemilik perusahaan. Soalnya kalau si pemilik terlalu sering campur tangan sudah barang tentu tidak akan memberi kesempatan eksekutifnya berkembang. "Bekerja itu menyangkut kepuasan," jelas pria yang gemar nonton film ini.

Namun, bila si pemilik ternyata memberi kesempatan yang luas seperti di mana dia bekerja saat ini (Grup Lippo milik taipan Mochtar Riady), yang dirasa malah tipisnya perbedaan antara sebagai pegawai atau pemilik. "Soalnya seperti mengelola perusahaan milik sendiri."

Tak heran pula bila pikiran untuk hijrah atau bikin usaha sendiri untuk sementara ini masih jauh dari benak Handoko. Takut mencoba? "Saya puas bekerja di sini." (HyL/IEW)


KIKI HAMIDJAJA, 34, wakil presiden direktur Bank Modern

Salah satu kunci sukses Kiki Hamidjaja dalam meniti karier hingga ke posisi eksekutif di Bank Modern adalah ketekunan dan kesabaran. Dua modal dasar itu rupanya sudah tertanam di dalam diri Kiki sejak kecil. Maklumlah memang sejak usia belia itu dia sudah gemar bermain musik khususnya biola dan piano yang juga berperan melatih kesabaran dan ketekunan. Bahkan ketika itu cita-citanya pun ingin menjadi musisi. Sayang realisasi impian di kala muda itu ternyata melesat jauh, Kiki justru terdampar di dunia perbankan.

Sepak terjang pria kelahiran Bandung, tiga puluh empat tahun silam ini dimulainya justru di luar negeri. Usai menamatkan di sekolah bisnis University of Southern California, Amerika Serikat sekitar 1986, Kiki bekerja di Golden Fields Trading Company, Hong Kong, sebagai manajer yang mengurusi ekspor impor. Cuma setahun dia bekerja di situ, pria yang masih mahir bermain piano ini mulai mencoba-coba beralih profesi. Pilihan pun jatuh ke bidang yang tak jauh dari ilmu yang ditimbanya yakni finansial.

Debut pertama di bidang perbankan diawali di Bangkok Bank Limited cabang Jakarta. Di bank asing itu Kiki dipercaya selaku asisten manajer pemasaran. Tiga tahun menimba pengalaman kerja (1987-1990) di Bangkok Bank, ayunan langkah Kiki pun menuju Bank Modern. Di bank swasta nasional milik taipan Samadikun Hartono itu dia dipercaya untuk memimpin salah satu cabang bank tersebut pada 1990. Setahun kemudian jabatan direktur pemasaran pun diraihnya. Baru diawal tahun ini posisi wakil presdir dipercayakan kepadanya.

"Selagi muda sebaiknya dipakai untuk membangun prestasi," tutur pria yang lebih suka mengisi akhir pekannya tinggal bersama keluarga ini. Sementara untuk urusan liburan Kiki lebih suka pergi ke Bali ketimbang bepergian ke negeri orang. Bahkan tak jarang dia memilih santai di atas geladak kapal Awani Dream milik Grup Modern.

Dalam menjaga vitalitas kerja, resep pria yang memiliki tinggi bandan 192 centimeter dengan bobot 95 kilogram ini terbilang sederhana saja. Rajin berolahraga khususnya renang. Selain rajin menjaga kondisi badan, Kiki pun kerap bertindak selaku pembawa renungan dalam ibadah pagi di kantornya. Makanya tak heran bila pagi-pagi benar dia sudah mesti keluar rumah. Sampai-sampai urusan memakai dasi dan sepatu pun dilakukannya di dalam mobilnya. (Say)


BAMBANG P. MURTJONO, 40, direktur Country Controller Bank Amex

Pria berwajah serius dan berpembawaan kalem ini mengaku meniti karier di dunia perbankan sebagai sebuah kebetulan semata. Maklumlah ketika menimba ilmu di Swinburne Institute of Technology, Australia bidang general business sama sekali hal ini tak terpikirkan. Peluang pertama yang datang usai merampungkan studi justru datang dari sebuah bank swasta asing, Chase Manhattan Bank, N.A. Melamarlah Bambang P. Murtjono ke Chase dan jadilah dia seorang calon bankir muda. Setelah enam tahun menimba pengalaman di sana, pada 1988 hijrahlah Bambang ke American Express Bank. "Saya pindah karena ada peluang yang lebih baik di Amex Bank," tutur Bambang. Di bank itu dia dipercaya memegang posisi assistant vice-president & financial manager. Dalam kurun waktu empat tahun kemudian, dia mendapat promosi untuk menempati pos baru selaku director & country controller.

Sebenarnya, di mata Bambang bekerja di dua bank asing yang kebetulan sama-sama asal Amerika Serikat ini hampir tak jauh berbeda, baik itu dari segi sistem, budaya, dan gaya usaha. Toh, kalaupun dia meloncat juga ke Amex, itu karena ada peluang. "Sementara kalau saya tetap di Chase mungkin harus menunggu lebih lama untuk naik," katanya. Bagi dia setelah lima atau enam tahun bekerja mesti ada kenaikan kelas atau posisi.
Nah, sekarang ini setelah empat tahun menduduki posisi terakhir sepertinya Bambang mulai merasa 'gerah'. Bisa jadi karena setahun lagi dia mesti menimbang-nimbang posisi apa lagi yang mesti dibidiknya. Walau sebenarnya secara jujur dia mengakui dengan jabatan yang sekarang pun sudah terbilang enak. Tugasnya membuat laporan langsung ke bos Amex di Indonesia.

Dalam hal bekerja, pria penggemar buku, musik, dan fotografi ini memang selalu berupaya melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya. Quant je puis atau the best I can alias lakukanlah yang terbaik adalah filosofi yang dipegangnya. Namun, bila dalam melakukan sesuatu dia gagal juga, itu tak akan membuatnya frustrasi. "Artinya, ada unsur not all out tetapi ada semacam evaluasi terhadap diri sendiri," tuturnya.
(IEW/ HyL)


HARRY TANOESOEDIBJO, 30, presiden direktur PT Bhakti Investama

Pada usia 24, Harry Tanoesoedibjo menyelesaikan studi di Ottawa University, Kanada. Ia menyandang gelar MBA dengan spesialisasi pada keuangan perusahaan dan manajemen portofolio (portfolio management). Ia pun "pulang kandang" ke kota kelahirannya, Surabaya.

Bekerja pada perusahaan multinasional? Ternyata tidak. Harry tak mengikuti arus besar yang ditempuh oleh penyandang MBA generasinya. Ia memilih mendirikan PT Bhakti Investama, sebuah perusahaan sekuritas yang hingga kini masih mendudukkan dirinya sebagai presiden direktur. Kala itu, Bursa Efek Surabata (BES) baru pada tahap awal perkembangannya, dan ia berpendapat, PT Bhakti Investama masih akan punya ruang luas untuk berkembang.

Ia ternyata benar. Debut pertama perusahaannya dalam pembelian saham Bank Papan Sejahtera mencatatkan namanya sebagai pelaku bursa yang patut diperhitungkan. Dengan aksi yang dingin, perlahan tetapi pasti, Bhakti Investama menumpuk penguasaan atas saham Bank Papan hingga mencapai posisi mayoritas.

Yang muncul kemudian memang bukan nama Harry sebagai penguasa mayoritas Bank Papan, melainkan Jopie Widjaja, presiden direktur Steady Safe. Namun, banyak pihak yang menduga, keterlibatan Bhakti Investama dalam aksi pembelian saham-saham itu adalah bukti bahwa Harry memang punya kontribusi besar. Bahkan spekulasi di bursa mengatakan bahwa Harrylah otaknya.

Dugaan semacam itu pula yang muncul ketika saham Bank Mashill menjadi ajang rebutan pada pekan-pekan terakhir. Kali ini, Harry juga berada pada kubu yang sama dengan Jopie Widjaja, bersama Tito Sulistio, direktur CMNP dan Titi Prabowo. Aksi mereka telah membuat harga saham Bank Mashill dan sejumlah bank lainnya terdongkrak, kendati kemudian ada tuduhan "penyesatan informasi". Lahir pada 26 September 1965, kini Harry menjadi ayah dari tiga orang anak. Ia dilahirkan dari keluarga biasa, sehingga ia kerap menampik permintaan wawancara karena merasa tak banyak yang perlu dibicarakan tentang dirinya. Tentu saja pendapat ini sedikit keliru, sebab kini ia sudah menjadi figur masyarakat, di samping bos sebuah perusahaan sekuritas yang aksi-aksinya makin dicermati pelaku bursa. Sebagai figur masyarakat, Harry adalah salah seorang komisaris BES. Sementara PT Bhakti Investama makin mencuat setelah berkali-kali menangani IPO beberapa perusahaan, termasuk Steady Safe.

Kendati belum banyak hal terungkap, tetapi menurut kawan-kawan dekatnya, salah satu ciri lelaki yang berbadan agak gembul ini adalah sikapnya yang "terlalu mencintai pasar modal." Mungkin karena didorong oleh spesialisasinya sejak kuliah--manajemen portofolio--Harry kerap berlama-lama di luar negeri untuk mengikuti seminar tentang bidang yang dia geluti itu. Bila sudah bicara tentang ini, ia bisa lupa segalanya. (EES)


BUDI KARYA SUMADI, 37, direktur PT Jaya Land dan direktur PT Jaya Real
Properti


Pria jangkung kelahiran Palembang pada 1956 ini mengawali kariernya sebagai drafter semasa kuliah di jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Selain itu Budi Karya Sumadi sempat pula menggeluti dunia pendidikan sebagai asisten dosen perencana design center FT UGM pada 1979. Setelah menyelesaikan kuliah pada 1982, Budi bergabung dengan Grup Jaya sebagai staf departemen real estat PT Pembangunan Jaya sebelum menduduki kursinya sekarang ini sebagai direktur PT Jaya Real Properti dan direktur Jaya Land.

Berbicara sebagai seorang yang hampir 14 tahun menghabiskan waktunya untuk dunia properti, Budi mengakui banyak sekali tantangan pada bisnis yang ditekuninya ini. "Bisnis properti adalah bisnis padat modal, jadi untuk bisa survive pelakunya harus bertindak sangat hati-hati," kata dia. Kekuranghati-hatian dan bekerja setengah-setengah seperti yang sering kali dilakukan oleh mereka yang baru menerjuni bisnis menurut Budi yang menyebabkan banyak kegagalan.

Dari sekian banyak proyek yang sempat ditanganinya, proyek Pasar Kemis diakui cukup berbekas di hatinya. "Soalnya proyek ini hampir gagal karena memang sudah banyak pengembang di sana," kata dia. Untunglah karena kedekatannya dengan kalangan Pemda dia berhasil mengakuisisi sekitar 15 perusahaan yang nyaris kolaps. Sehingga akhirnya bisa mendapatkan lahan seluas 1.800 hektare.

Sementara dalam situasi bisnis properti saat ini yang nyaris stagnan Budi masih menyimpan harapan kalau bisnis ini akan kembali marak pada pertengah tahun depan. "Saya memprediksikan kondisi ini hanya bersifat sementara. Satu waktu industri ini akan berjalan baik dan properti akan menjadi barang yang dicari. Jadi, ini hanya soal timing," kata dia.

Itu sebabnya pula dia masih memiliki ambisi untuk menjadikan proyek yang ditanganinya yakni Puri jaya dan sebuah proyek di Surabaya sebagai proyek yang solid. "saya berambisi untuk menjadikan proyek saya sebagai proyek yang profitable," kata Budi.

Sebagai profesional, dia mengaku tidak semata memikirkan sisi materi sebuah karier. "Mungkin ada juga kebanggaannya kalau bisa menjadi bagian dari sebuah kerajaan bisnis," kata dia ketika ditemui Warta Ekonomi di kantornya. "Berbeda dengan entrepreneur sebagai profesional tentu ada unsur pengabdiannya," kata pria yang aktif dalam keanggotaan REI sebagai ketua kompartemen sarana dan prasarana lingkungan hidup ini. Yang jelas, kata Budi, Grup Jaya tempat dia mencurahkan segala ide dan kemampuan yang dimilikinya itu memberikan tempat baginya untuk berkreasi. "Di sini keberhasilan dihargai dengan pemberian reward," katanya.

Dunia properti bagi Budi Karya Sumadi bisa jadi telah menjadi bagian dari hidup. Tak heran juga kalau dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk dunia yang satu ini. "Saya melihat bisnis properti banyak tantangannya, karena berhubungan dengan banyak orang dan banyak instansi," kata dia. Budi bahkan mengakui hampir 40% waktunya dihabiskan untuk berhubungan dengan kalangan instansi pemerintahan. "Kebetulan tugas saya di sini lebih banyak terjun ke hal yang sifatnya instansional," kata dia.

Meski tak mengaku sebagai orang yang 'gila' kerja, toh Budi menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Kegiatan pulang kantor pukul 19.00 sering kali tertunda karena keperluan pertemuan dan lainnya. Dia mengakui belum adanya keseimbangan antara karier dengan kegiatan lain seperti olah raga dan semacamnya. "Paling saya cuma joging dan naik sepeda, saya memang belum bisa menikmati hidup," kata pria yang pernah aktif dalam keanggotan Menwa UGM semasa kuliah ini. (IR/Say)


DJAJENDRA, 31, credit & marketing director PT Bank Putera Multikarsa

Kalau ditanya, apa yang paling banyak mendorongnya untuk menjadi seorang profesional, Djajendra tentu akan menjawab keluarga. Ayah dua orang anak ini memang agak berbeda dengan eksekutif muda pada umumnya yang gemar melancong dan menghabiskan waktu malamnya di kafe-kafe. Sepulang kerja Djajendra mengaku, lebih suka pulang ke rumah untuk segera menemui isteri dan anak-anaknya. "Saya termasuk orang yang selalu rindu rumah," ujarnya berterus terang. Meski begitu, bukan berarti Djajendra enggan melakukan pesiar. Meski hanya di dalam kota, eksekutif muda yang mengaku tak suka berpenampilan mewah itu, sesekali mengajak keluarganya berjalan-jalan, entah ke pusat perbelanjaan ataupun ke pusat-pusat hiburan lainnya.

Mengawali kariernya sebagai akuntan di Kantor Akuntan Sujendro, yang pada waktu itu bermitra dengan Peat Marwick. Pekerjaan di kantor akuntan yang kini bernama KPMG itu, dia lakukan sembari menyelesaikan pendidikannya di Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah menyelesaikan kuliah, dan memperoleh pendidikan tambahan di Singapura dalam bidang komputer dan bahasa selama satu tahun, ia langsung bergabung dengan Bank Internasional Indonesia, sebagai auditor di cabang-cabang BII di luar negeri, antara lain di BII Finance, Hong Kong. Selain itu, Djajendra juga diserahi tugas menangani proyek komputerisasi di bank tersebut.

Ketika masih di BII, Djajendra memperoleh tawaran dari Rabobank, Belanda, untuk menduduki jabatan senior manager kantor bank tersebut di Indonesia. Selama kurang lebih tiga tahun, Djajendra mengendalikan bidang pengawasan di bank tersebut. Baru pada awal 1995, ketika Bank Putera Sukapura diambil alih oleh manajemen baru, Djajendra mulai bergabung. Jabatan yang dipercayakan padanya cukup tinggi, yakni
sebagai salah seorang direktur (FM).
Di ambil dari;
WARTA EKONOMI Mingguan Berita Ekonomi & Bisnis Edisi : 27 Mei 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar